Kerajaan Baru Berbeda dengan Kampung Adat

51

KEBERADAAN beberapa kerajaan baru seperti Sunda Empire, Keraton Agung Sejagat, Kesultanan Selacau atau Selaco Kingdom, baik bentuk maupun sstem pemerintahannya, sangat berbeda dengan kampung adat yang tetsebar di seluruh Jawa Barat. Di Jawa Barat cukup banyak kampung adat, seperti Kampung Naga, Sidaresmi, Cireundeu, Cikondang, Cipta Gelar, Kuta, Pulo,Kanekes (Baduy), dan sebagainya. 

Kerajaan-kerajaan yang bermunculan itu baru diresmikan, meskuipun ada yang mengaku sudah ada sejak ratusan tahun sebelum Masehi. Mereka memproklamasikan kerajaan, kesultanan, atau empire, dengan identitas dan atribut modern. Sedangkan kampung adat sudah ada sejak lama dengan atribut tradisional.  Tujuan keberadaannya juga kampung adat itu sangat jelas, memelihara dan melestarikan kebudayaan dan adat istiadat leluhur di lingklungannya.

Meskipun mereka bersentuhan dengan kebudayaan modern, mereka tidak terbawa arus kebudayaan baru. Mereka berpegang teguh pada tradisi lingkungannya secara konsisten. Orang Baduy, misalnya, mereka dari dulu sampai sekarang (terutama orang Baduy Dalam), tidak pernah bepergian dengan kendaraan. Seberapa jauhnya pun mereka berjalan kaki karena alat transportasi merupakan barang baru yang pantang digunakan.

Masyarakat Cireundeu, yang berada di tengah-tengah kehidupan modern di aereal perindustrian Kota Cimahi , tetap pada tradisinya, makan nasi singkong, mereka pantang menanak nasi dari beras. Begitu pula halnya dengan kampung adat yang lain. Mereka pantang merusak dan mengotori alam sekitarnya. Hutan harus tetap terjaga, air di sungai harus tetap jernih. Bentuk, bahan, dan tata letak perumahan, tidak boleh berubah, sejak ratusan tahun lalu sampai hari ini.

Meskipun tertutup dari inga bingar politik dan modernisasi, mereka tetap merasa sebagai bagian dari rakyat Republik Indonesia. Mereka juga taat bayar pajak meskipun dalam bentuk lain. Orang Baduy secara bersama-sama, baik dalam maupun luar, setiap kali habis panen, selalu menyerahkan sebagian hasil panennya kepada bupati atau gubernur. Mereka berjalan kaki puluihan kilometer memikul  padi huma, buah-buahan, gula aren, madu, dan sebagainya. Penyampauan seba atau pajak hasil bumi itu,menjadi prosesi yang sangat menarik. Kehidupan dan adat istiadat Baduy dan semua kampunmg  adat menjadi salah satu daya tyarik pariwisata.

Masyarakat kampung adat terbentuk karena ada dorongan idealisme pada pemuka dan masyarakatnya. Mereka bukan golongan masyarakat yang terlempar dari kehidupan nyata tetapi mereka punya misi yakni memelihara lingkungan hidup, adat istiadat, dan budaya yang diturunkan leluhurnya. Masyarakat Baduy hanya punya satu tujuan hidupnya yakni “ngrangtapakeun alam”. Orang yang punya tujuan lain,dipersilakan keluar dari lingkungan Baduy Dalam.

Lalu apa tujuan utama berdirinya kerajaan, kesultanan,  atau empire yang tiba-tibna bermunculan sekarang ini? Hanya mereka yang tahu jawabannya. Warga kampung adat, tanpa berpromosi melalui media sosial,  mereka memiliki sikap konsisten sebagai pemelihara alam dan lingkungan hidup di kampungnya. Mereka dinilai oang luar sebagai begian dai local genius. Mereka mengapresiasi kemajuan zaman, tetapi kemjuan zaman dan teknologi atau modernis itu metreka tempatkan di luar lingkungan kampung adatnya.

Sedangkan Sunda Empire dan sejenisnya, memiliki ambisi menguasai dunia. Mereka berada di luar nalar manusia pada umumnya. Mereka pengagum masa lalu yang dicoba diimplementasikan pada kehidupan masa kini yang sudah ratusan tahun ber-evolusi dan be-revolusi. Mereka tidak menapak pada zaman yang mereka jalani sekarang. Entahlah! ***