Ketahanan Pangan dan Selera Masyarakat

356
Malah Minta Diperketat

  DI semua kota besar di Indonesia orang akan sangat mudah membeli berrbagai jenis makanan. Ada beberapa kota yang  memiliki jenis makanan sangat beragam di samping makanan khas daerahnya. Banduing, Yogya, Suirabaya, dan sebagainya menjadi terkenal  sebagai kota yang sangat kreatif dalam menyajikan makanan. Di Bandung, misalnya, hapir setiap saat muncul jenis makanan yang tiba-tiba viral dan sanga disukai publik.

     Maraknya jenis makanan hasil kreativitas masyatrakat, tidak mengendurkan selera masyarakat terhadap makanan tradisional yang sudah sangat lama dikonsumsi masyarakat. Lotek, rujak, kupat tahu, ketoprak, gado-gado, soto, mi kocok, empe-empe, rendang, mi aceh, dan banyak lagi yang lain, merupakan makanan yang masih tetap bertahan dan banyak penggemarnya.

       Kuliner yang diolah kembali dari jenis makanan lama terus berkembang. Di Bandung, setelah dominasi batagor, basreng, baso urat, baso telur, baso anakan, tutug oncom, dan sebagainya, kini muncul seblak. Makanan campuran kerupuk aci dengan saus dan cabe rawit super pedas, menjadi camilan yang popular di kalangan remaja. Sajian kuliner baru itu mampu bersaing dengan kehadiran burger, spageti, aneka steak, berbagai ayam goreng , dan makanan keturunan asing lainnya.

      Sesuai dengan menggebunya kebudayaan Korea di Indonesia, dunia kuliner pun turut terpapar selera Korea. Korean-food kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan pop remaja Indonesia. Bukan hanya gaya hidup, fesyen, tata rias wajah, tata rambut, para remaja Indonesia tergila-gila pula terhadap makanan Korea. Bukan hanya di restoran besar, di pasar dan kaki lima pun, amat mudah kita jumpai Koreanfood. Banyak makanan Korea yang disajikan di restoran khusus dengan harga lumayan mahal. Di Kota Bandung bermunculan kafe dan resto yang khusus menyajikan makanan Korea.

     Selera bangsa Indonesia, khususnya kalangan remaja, terus berubah dari waktu ke waktu. Mereka tidak segan mengeluarkan isi koceknya untuk mencicipi berbagai sajian kuliner. Hal itu pada satu sisi mendorong kreativitas penyaji makanan. Bersamaan dengan itu, pintu Indonersia terbuka sangat lebar bagi masuknya berbagai jenis makanan dari luar.Karena itu makanan cepat saji (junk food) selalu mendapat sambutan hangat di pasar makanan Indonesia. Ayam goreng dari Amerika, mi legendaries (spageti) dari Italia, nasi kebuli dari Timur Tengah, kebab dan dondurma dari Turki, sukiyaki dari Jepang, aneka masakan bebek dari China, dan sebagainya, mendapat pasar sangat luas.

     Selera makan yang selalu berubah-ubah dapat berpengaruh terhadap program ketahanan pangan yang dicanangkan pemerintah. Kemajuan dunia kuliner, baik lokal maupun impor, dapat mengurangai ketergantuingan masyarakat terhadap beras. Makan pagi dapat berupa sereal, roti, mi, dan sebagainya. Ibu rumah tangga tidak harus menyajikan nasi goreng, lontong, nasikuning, atau uduk. Malah, orang berkelaS di kota-kota besar, hampir meninggalkan nasi. Selera mereka sudah berubah ke aah sajian kentang goring, roti bakar, steak,dan sejenisnya. Kerja Bulog mengumpulkan beras, sedikit berkurang. Beban tugas penyediaan beras berkurang meski jumlahnya masih sedikit.

     Banghsa Indonesioa, terutama  yang berada di pinggir kota, masih tetap berselera nasi. Mereka merasa belum makan meskipun baru saja makan roti atau mi. Artinya ketergantungan terhadap beras masih cukup tinggi.  Bukan hanya beras yang meeka butuhkan, tempe an tahu masih merupakan teman nasi yang tidak dapat mereka tinggalkan. Awal tahun 21, harga kedele naik. Rakyat gelisah, para pembuat tahu tempe mengeluh. Selera atau budaya makan masyarakat amat sulit diubah. Beras dan kedele sampai pada awal tahun 2021 ini masih menjadi bahan makanan pokok. Beras dan kedele menjadi bahan makanan yang tek tergantikan.

    Pemerintah dihadapkan pada dua pilhan. Pertama, mendorong kreativitas masyarakat membuat berbagai jenis makanan nonberas. Kedua, meningkatkan produksi padi dan kedele. Tampaknya, kedua-duanya maih harus dilakukan. Kita harus beru[paya, sedikit demi sedikit keteragantungan terhadap beras dan kedele berkurang. ***