Ketika Seni dan Teknologi Bertemu

74
Ketika Seni dan Teknologi Bertemu

DIKENAL sebagai destinasi belanja, Singapura ternyata mempunyai beragam tempat untuk eksplorasi seni. Beragam karya seni, dari art street berupa mural pinggiran jalan hingga lukisan kanvas karya maestro dunia bisa ditemukan di negera kecil ini.

Tempatnya beragam, bisa di National Gallery Singapore, Singapore Art Museum (SAM) hingga Gillman Barrack yang berada di pinggiran kota. Dan satu lagi, Art Science Museum Singapura.

Tempat terakhir itu bisa jadi pilihan bagi mereka yang ingin menikmati lebih dari sekedar seni. Di Art Science, kesenian dipadu dengan teknologi. Hasilnya, beragam karya seni digital futuristis tersaji di museum yang lokasinya berada di kawasan Marina Bay Sand Singapura.

Cukup banyak pilihan di tempat ini. Namun, Future World: Where Art Meets Science-lah di Basement 2 jadi favorit pengunjung. Di tempat ini, pengunjung bisa menikmati ragam karya seni yang dipadu teknologi digital mutakhir.

Seni digital Balck Wave karya seniman Jepang Hideaki Takahashi di Art Science Museum.

Instalasi seni Black Waves jadi ‘menu’ pembuka. Seni digital karya seniman Jepang Hideaki Takahashi itu mengekplorasi lautan Jepang dengan deburan ombaknya yang tinggi dalam bentuk digital yang dipancarkan melalui sebuah proyektor.

Melihat karya Hideaki kita bisa merasakan sensasi riuhnya deburan ombak biru dan sejuknya udara pantai. Kita juga bisa bersantai dengan tidu-tiduran di depan karya tersebut. Pihak museum menyediakan sejumlah bantal besar untuk pengunjung.

Puas dengan deburan ombak karya Hideaki, kita bisa menikmati konsep seni lain yang juga menggabungkan teknologi visual. Di ruangan dengan berkonsep town atau kota, pengunjung bisa menikmasi seni interaktif dengan berkonsep tata kota. Di sini, kita bisa mewarnai sketsa-sketsa gambar yang disediakan, kemudian men-scan dan menjadi karya interaktif yang tampil bergerak di dinding ruangan. Kita bisa mengubah sketsa-sketsa tersebut sesuai dengan keinginan.

Di Art Science kita interaktif dengan mewarnai sketsa-sketsa gambar yang sudah disediakan.

Tak cukup itu, di bagian akhir ruangan, instalasi ribuan lampu kristal kecil “Crystal Universe” jadi penutup. Meski ruangannya tidak terlalu besar, hanya lorong kecil dengan lampu kristal di kanan dan kiri, karya seni ini cukup menarik untuk jadi spot berfoto atau selfie.

Selain Future World, Art Science Museum juga menawarkan eksebisi lukisan ‘konvensional’ karya sejumlah seniman mancanegara.

Dalam eksebisi bertema “Art From The Street” di lantai 3 ini, pengunjung juga menyaksikan karya seniman Indonesia Eko Nugroho.

Lukisan Eko Nugroho dipamerkan di Art Science Museum Singapura.

Seniman kelahiran 1977 itu mengcreate sebuah lukisan berjudul “Garden Full Of Blooming Democracy” dengan ukuran besar. Eko menggabungkan batik yang jadi ciri khas Indonesia dengan budaya pop masa kini dalam konsep lukisannya. (c-003/bbs)***