Kondisi Geologi, Kemiringan Lereng  Dan Tata Guna Lahan Rentan  Ancaman Gerakan Tanah

2

Dibanding bahaya geologi lain (gempa bumi, tsunami atau letusan gempa bumi), gerakan tanah  lebih sering terjadi  di daerah perbukitan. Hampir semua peristiwa gerakan tanah rata-rata menimbulkan kerugian harta benda.  Seperti  terjadi di beberapa  wilayah Jawa Barat,  baru-baru ini di wilayah Sukabumi , Sumedang ,  Majalengka dan Garut .

Gerakan tanah didefinisikan sebagai pergerakan massa tanah atau batuan ke bawah lereng di bawah pengaruh gaya grativikasi. Menurut Vernes dalam Special Report 176 :  Landslides Analysis and Control, jenis-jenis gerakan tanah , terdiri dari jatuhan, rubuhan, luncuran/longsoran, pencaran dan aliran.

Di Indonesia , jenis gerakan tanah yang sering terjadi adalah longsoran dan aliran. Keduanya lebih sering menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda yang cukup besar , seperti terjadi di wilayah Jawa Tengah dan  Jawa Timur . Di wilayah Jawa Barat , terjadi di antaranya di Pangalengan ( 2015) dan  Ciwidey (2009) Kab.Bandung , Cililin (2013) Kab.Bandung Barat dan wilayah Kab.Sumedang .

Selama 20 tahun terakhir , bencana gerakan tanah banyak terjadi  di Pulau Jawa  .  Ikhwal  kejadian gerakan tanah , banyak yang mempertanyakan   , mengapa perbukitan di beberapa daerah rentan terhadap gerakan tanah.

Beberapa faktor penyebab kerentanan   gerakan tanah, antara lain  kondisi geologi , kemiringan lereng dan tata guna lahan. Umumnya , gerakan tanah banyak terjadi  pada lereng yang tersusun oleh batuan dasar berupa  breksi vulkanik dan pasir . Kondisi batuan memiliki  kuat geser  karena belum mengalami pemadatan  .

Kemudian lereng yang tersusun oleh batulempung ekspansif , juga rentan terhadap gerakan tanah saat musim hujan  . Sifat ekspansif menyebabkan batulempung akan mengalami degradasi kekuatan terpengaruh  oleh perubaan cuaca. Pada musim kemarau , batulempung akan mengalami penyusutan dan mudah merekah. Sementara pada musim hujan, batulempung akan melunak. Penurunan kekuatan lapisan batulempung dan suatu lereng akan menimbulkan pergerakan tanah. Seperti,  gerakan tanah yang terjadi pada ruas jalan tol Cipularang  KM 91-92 , disebabkan oleh keberadaan batulempung (Geomagz 2015 ).

Baca Juga :   Walhi Desak Pemprov Jabar Kaji Ulang Perluasan Industri

Tata guna lahan

Selain faktor geologi dan kemiringan lereng , gerakan tanah umumnya terjadi pada lereng  yang memiliki kemiringan antara 27 – 36 derajat , diperparah oleh kondisi  tata guna lahan yang dijadikan permukiman, ladang dan pesawahan. Pada jenis  tata guna lahan serupa ini ,  kondisi  tanah seringkali  jenuh  air karena meningkatnya air permukaan yang sangat rentan terjadi gerakan tanah dan biasanya terjadi pada musim hujan atau pada saat terjadi gempa bumi.

Saat terjadi gempa bumi , goncangannya akan menimbulkan beban tambahan dan daya gerak  pada lereng perbukitan . Goncangan gempa bumi menimbulkan tekanan  air pada lereng yang sudah jenuh air .    Curah hujan termasuk  pemicu  terjadinya gerakan tanah . Di beberapa daerah , kejadian gerakan tanah didahului  oleh turunnya hujan lebat berturut dalam kurun waktu 2-3 hari . Curah hujan tinggi akan menyebabkan  infiltrasi air hujan ke lereng perbukitan semakin besar dan masuk pori/rongga tanah.  Akibatnya akan menurunkan kekuatan tanah.  Di antaranya , berdasar hasil analisis pihak direktorat geologi , proses gerakan tanah yang terjadi di Desa Cigendel Sumedang beberapa waktu lalu (April 2015). (B-003) ***