Kopti Sumedang Mati Suri Tidak Mampu Penuhi Kebutuhan Anggotanya

466

BISNIS BANDUNG – Keberadaan Koperasi Produsen Tahu dan Tempe (Kopti) di wilayah Sumedang bagi anggota memiliki nilai ekonomi dan vital . Para perajin tahu dan tempe mendapatkan bahan baku untuk kebutuhan produksi yang disediakan koperasi de­ngan kualitas baik .

Namun akhir akhir ini berdasar keterangan yang dihimpun BB , koperasi penyedia bahan baku tahu dan tempe ini , aktivitasnya mulai mengalami penurunan. Jumlah anggotanya berkurang , menjadikan Kopti Sumedang sepi dari aktivitas , banyak di antara anggota koperasi yang meninggalkannya. Sejak didirikan pada tahun 1981 dan diresmikan oleh Bupati Sumedang pada tahun 1985 (Sutarja),keberadaan Kopti sangat membantu anggotanya yang sebagian besar perajin tahu dan tempe yang anggotanya 136 orang , kini tersisa sekitar 36 orang.

”Menurunnya jumlah anggota , kemungkinan merupakan imbas karena adanya persaingan harga kedelai yang terjadi di luar kope- rasi. Masalah utama yang dihadapi Kopti saat ini adalah ketidakmampuan menyediakan kedelai untuk anggota. Di pasar bebas harga kedelai cukup tinggi,sehingga banyak anggota Kopti menghentikan usahanya,” tutur seorang perajin tempe yang enggan menyebut namannya saat diwawancara BB .

Melemahnya aktivitas Kopti Sumedang, diperperah oleh kemampuan koperasi yang tidak secara rutin mampu menyediakan bahan baku untuk kebutuhan produksi tahu dan tempe. Walau sebenarnya keberadaan koperasi ini bukan hanya menjadi tanggung jawab para pengurus Kopti , namun juga pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah yang harus ikut andil dalam menjaga keberadaan Kopti agar kegiatannya bisa sesuai dengan harapan .

Menurut Sekretaris Kopti Sumedang , Rahmat Iriana , kenaikan harga kedelai yang selalu berubah dan jauh dari prediksi, ditambah susahnya menda­patkan pemasok kedelai yang bisa mengirim secara rutin, menjadi faktor yang menghambat aktivitas kegiatan koperasi , khususnya Kopti . Padahal seperti kita ketahui nama Sumedang sebagai sentra industri tahu sudah sangat terkenal secara nasional , bahkan mancanegara.

Namun karena hal dan sebab itu menjadikan Kopti saat ini, seperti mati suri . ”Bangunan masih berdiri kokoh pekerja masih ada, namun kegiatan perkoperasian tidak berjalan sebagaimana mestinya,” ucap Rahmat Iriana yang ditemui BB di kantornya Jalan Cilengkrang,Sumedang Selasa (31/10/17). Diakui Rahmat , kondisi Kopti Sumedang saat ini , memang seperti mati suri. Permintaan bahan baku untuk kebutuhan anggota tidak tersedia.

Karena kondisi serupa ini banyak pedagang tahu dan tempe gulung tikar, karena yang mereka butuhkan dari kami sebagai penyedia bahan tidak dapat terpenuhi. Rahmat mengatakan,kondisi para perajin tahu tempe khususnya anggota Kopti, kini tengah kebingungan di tengah ketidakmampuan koperasi untuk memenuhi permintaan anggotanya.

Solusi yang terbaiknya,lanjut Rahmat,pemerintah daerah maupun pusat harus mengambil alih tata niaga kedelai . Tata niaga kedelai harus dikembalikan pengelolaannya kepada Bulog,terlebih kedelai merupakan komoditas penting kedua setelah beras. Kehadiran Bulog dalam mengatur tata niaga kedelai,bukan berarti memonopoli dan menutup ruang gerak impor.

”Kedelai yang didatangkan importir , pendistribusiannya harus melalui Bulog.Selain bisa menyetabilkan harga , peran Bulog diharapkan bisa membangkitkan semangat para petani kedelai khusunya.

Di samping itu Bulog juga bisa membeli hasil panen kedelai petani.Saat stok kurang bisa menyalurkannya ke para perajin tahu tempe dengan menjaga kestabilan harga,” tutur Rahmat.

Beda lagi ketika tata niaga kedelai dise­rahkan ke importir, lanjut Rahmat, yang terjadi kepada para perajin tahu dan tempe de­ngan kondisi harga kedelai yang tidak stabil. Seperti saat ini kondisi tata niaga kedelai , kualitas maupun kuantitas dan harganya sa­ngat rentan dipermainkan oleh para importir.”Importir dengan leluasa memainkan harga kedelai dengan alasan nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah,” tambah Rahmat. (E010)***