Kualitas Air Waduk Cirata Menurun, Berdampak Terhadap Mesin Pembangkit

254

Badan Pengelola Waduk Cirata (BPWC) pembangkitan Jawa-Bali (PJB) mengungkapkan, kualitas air di waduk Cirata semakin hari terus menurun. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap ketahanan mesin pembangkitan. Selain itu, pola debit air saat ini mulai berubah, setiap musim kemarau akan kering dan musim hujan biasanya terjadi banjir.

Penurunan kualitas air di waduk Cirata sudah sangat menurun,   berdasarkan sejumlah parameter menunjukkan, bahwa dari tahun ke tahun kualitas air di waduk Cirata mengalami penurunan. Dimana  PLTA Cirata merupakan penanggung beban puncak interkonesi Jawa-Bali, sehingga jika air waduk Cirata mengalami penurunan dan plta tidak beroperasi maka kualitas listrik Jawa-Bali bisa menurun. Hal tersebut di ungkakan manager perencanaan dan monitoring PT PJB BPWC Imron Fauzi. Oleh karena itu, PT PJB BPWC menjalankan beberapa program untuk pelestarian lingkungan, termasuk yang melibatkan masyarakat sekitar. salah satunya penggunaan eceng gondok yang berada di waduk Cirata sebagai biogas.

Sementara itu, kepala divisi LK3 PT PJB, Muhammad Munir mengatakan adanya pakan ikan yang berasal keramba jaring apung (kja) disekitar kawasan waduk Cirata berdampak pada umur mesin yang semakin pendek. Selain itu limbah pakan ikan dan limbah industri turut berpengaruh membuat operasi PLTA tidak maksimal dan performa menurun.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat Adang Sudarna menegaskan, kondisi daerah aliran sungai (das) Citarum sudah tercemar berat akibat limbah industri,limbah pertanian dan limbah domestik.

Menurut data yang disampaikan Kadis LH Jabar, volume sampah di sungai Citarum mencapai 250 ribu ton per tahun dan diklaim menurun dibandingkan 2013. Sementara,  survei BBWS volume sampah mencapai 500 ribu ton per tahun.

Algi Muhamad Gifari, BandungTV.