Kuburan Cina Cikadut Terbesar di Asteng Sudah Ada Sejak Tahun 1917

1876

Kuburan orang Tionghoa di Cikadut Kota Bandung, sebagai kawasan tempat permakaman orang Tionghoa sudah dikenal sejak puluhan tahun. Ratusan hektar lahan perbukitan yang semula milik penduduk Cikadut, Jatihandap dan Mande, kini di atasnya menjadi area kuburan Tionghoa dengan ornamen kuburan, mulai dari kelas puluhan juta hingga miliar.

Di era antara tahun enam puluh – tujuh puluhan, makam Giok Sie (pemilik pabrik tekstil BTN waktu itu) konon menjadi bangunan makan termahal, ditaksir berharga Rp 1 miliar.
Kini kemungkinan bangunan makam semahal itu sudah ada beberapa. Makam dengan ornamen naga dan lainnya, konon di antaranya didatangkan dari Hongkong dan negara yang memiliki kualitas mamer terbaik.

Makam mahal di Cikadut dipelihara seorang tukang. Namun tidak jarang ada makam yang tidak terpelihara. Bahkan beberapa bahan, seperi pagar besi dan lainnya yang bisa digunakan untuk bahan bangunan diduga hilang ada yang mencuri.
Daerah di timur pusat Kota Bandung ini memiliki tempat yang identik dengan warga keturunan negeri , tempat permakaman umum umat Hindu/Buddha yang akrab disebut kuburan Cina.

Ornamen khas Tionghoa yang didominasi warna merah dan kuning emas, terlihat jelas di bangunan makam. Batu nisan di makam di­tulis menggunakan huruf hanzi.
Secara historis, kuburan Cina Cikadut berfungsi sejak tahun 1918. Namun, secara de facto kondisi di lapangan, makam warga etnis Tionghoa sudah ada satu tahun sebelumnya, tepatnya tanggal 23 Agustus 1917, yakni makam seorang tokoh penting etnis Tionghoa di Kota Bandung, Tan Joeng Liong.

Pada batu nisan (bongpai) Tan Joeng Liong, tertulis Kapiten Titulair Der Chineezeen. Kapten Titulair berarti kapten kehormatan. Gelar tersebut didasarkan atas jasa dan pengabdiannya saat menjabat sebagai opsir Bandung dengan pangkat Letnan, selama 25 tahun (1888-1917).

Nama lain yang tidak kalah terkenal , yakni raja tekstil, Yo Giok Sie. Dia meninggal pada 23 Agustus 1963. Yo Giok Sie merupakan pendiri pabrik tekstil terbesar di Kota Bandung saat itu, yakni PT Badan Tekstil Nasional (BTN) yang berlokasi tidak jauh dari terminal Cicaheum. Saat ini, bangunan pabrik yang didirikannya , di antaranya berubah fungsi .
Dari berbagai catatan yang dihimpun BB, sebelum tahun 1960, TPU tersebut memiliki nama Kuburan Cina Cikadut. Namun karena larangan penggunaan hal-hal berbau etnis , nama permakaman tersebut berubah menjadi TPU Hindu/Buddhai.

Kompleks makam ini membentang luas di kawasan perbukitan Bandung Utara. Luas makam mencapai 561.557 m2. Hal inilah yang membuat kawasan permakaman ini disebut-sebut sebagai kawasan permakaman terbesar se-Asia Tenggara Menurut salah seorang pengurus makam, dalam tradisi Tionghoa, kematian merupakan hal yang sakral. Lahan permakaman , harus sudah disiapkan pihak keluarga atau ahli waris meski mereka masih hidup atau dalam keadaan koma. Selain lahan permakaman, ri­tual penguburan jenazah juga sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.

Hal ini terlihat dari makam atau bong yang sudah disiapkan di komplek permakaman Cina Cikadut yang tidak sembarangan. Biasanya, anak lelaki paling tua dalam keluarga akan memegang peranan penting dalam mengurus kematian orang tuanya. Anak lelaki tertua yang kelak akan menyimpan abu jenazah orang tuanya. “Minggu ini saja saya ada pemintaan dari pihak keluarga untuk menyiapkan makam dari keluarga yang punya pabrik tekstil,” tutur Ade, pengurus makam Cikadut. Menurut Ade, ketaatan dalam tradisi penghormatan kepada leluhur bagi masyarakat Tionghoa masih sangat kental. Hal itu terlihat dari kebiasaan mereka yang meminta Ade untuk mengurusi makam sejak 1990.

Mulai dari membersihkan hingga membuat ornamen makam yang tak lepas dari arsitektur gaya Tionghoa. Sebagian warga Tionghoa yang masih memegang kuat tradisi , sering berziarah dengan bersembahyang setiap hari Minggu . Era tahun 80-an , permakaman Cina di Cikadut diwacanakan akan dipindah ke daerah Cicalengka Kab.Bandung serta terda­pat larangan perluasan penggunaan lahan kuburan ke wilayah Mande . Namun pemindahan lokasi dan larangan perluasan wilayah permakaman, sejauh ini belum terbukti . (B-003/BBS) ***