KUR  Ditangan Petani Mengapa tak Produktif Beralih Jadi Konsumtif

15
KUR Ditangan Petani Mengapa tak Produktif Beralih Jadi Konsumtif

BISNIS BANDUNG—Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang digelontorkan sejak tahun  2008 menurun tajam, akibat terjadinya tunggakan yang trendnya  meningkat. Petani bisa memperoleh dana KUR  sebesar Rp 50 juta dengan suku bunga 6 %, tingkat bunga yang lebih rendah dari sebelumnya sebesar 7 – 8 % .

KUR tersebut digelontorkan tanpa agunan yang dialokasikan pemerintah sebesar Rp. 50 triliun. Dalam tahun 2020, plafon KUR Mikro ditingkatkan dari Rp 25 juta menjadi Rp 50 juta.

Untuk sektor pertanian,  digelontorkan juga KUR Alsintan. Bantuan subsidi Alsintan bagi petani asalnya 80 persen diturunkan menjadi 60 persen. Beban petani yang 40 persennya, dengan adanya KUR Alsintan, bisa ditutupi dan petani mencicilnya. Diharapkan petani jadi lebih mandiri dan rasa kepemilikannya terhadap Alsintan  makin meningkat.

“Realisasinya banyak dari dana KUR yang diperoleh petani alokasinya tidak semua produktif, ada pula yang lari ke alokasi konsumtif.  Ini sesuatu yang tidak bisa dihindari sebab yang namanya kredit, kalau sudah ada di tangan, bisa saja alokasinya menyimpang dari tujuan semula,” ujar Guru Besar Emiritus Fakultas Pertanian Unpad Bandung, Prof.Dr.Ir.Maman Haeruman K, MSc kepada Bisnis Bandung, Senin (5/4/2021).

Di lingkungan pertanian, petani berupaya sepenuhnya menggunakan kreditnya untuk usaha taninya, tapi dengan adanya perubahan iklim dan cuaca akibat pemanasan global (global warming) hasilnya pertaniannya jadi kurang bagus atau malah gagal. Demikian pula kalau ada hal-hal yang secara mendesak harus dipenuhi seperti biaya sekolah anak atau anggota keluarga yang sakit, bisa saja dana KUR yang digunakan.

Besaran nominal untuk KUR, omzet usaha usaha debitur Rp 5 sampai Rp 10 juta per bulan. Mengingat petani umumnya petani kecil yang lahannya sempit – petani liliput, dasar pertimbangan omzet usaha petani per bulannya mungkin lebih rendah dari besaran nominal itu.

Hal ini perlu dipertimbangkan, karena mereka perlu dorongan untuk menjadi lebih produktif dengan perolehan yang lebih besar sehingga tingkat kesejahteraannya meningkat. Di lain pihak petani-petani kecil tidak mudah mengelola kredit untuk kegiatan produktif sebab kondisi kesehariannya, kebutuhan konsumtif mudah menggoda petani untuk mengalokasikan kredit pinjamannya menutupi kebutuhan konsumsi keseharian mereka.

Dengan besaran kredit sebesar Rp 50 juta, diharapkan kegiatan produktif petani menjadi lebih terangsang. Kebiasaan petani yang kurang memperhitungkan korbanan keluarganya, termasuk korbanan dirinya sendiri dalam proses produksi usaha pertaniannya, sekarang perlu diperhatikan dan diperhitungkan.

Pertimbangan terhadap besaran dana KUR sebaiknya dikaitkan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di pihak petaninya itu sendiri. Peningkatan pendapatan petani dari pemanfaatan dana KUR mengindikasikan sejauh mana kontribusinya. Mungkin saja  dana KUR yang digelontorkan per individu ditingkatkan sesuai dengan perkembangan harga input pertanian yang digunakan. Selain itu, indeks  perubahan harga kebutuhan petani lainnya seperti kebutuhan konsumsi rumah tangga sehari-hari, juga perlu dipertimbangkan.(E-018)***