Kurang Efektif Vaksinasi bagi 30 Persen Penduduk

174
Apa lagi yang Wanita Cari?

MINGGU, 13 Desember 2020, pesawat kargo dari China  mendarat di Bandara Soeta.  Pesawat itu  menurunkan  kargo berisi 1,2 juta vaksin Covid 19 bermerk Sinovac. Dalam waktu dekat, Sinovac pesanan Indonesia, 1,8 juta paket,  akan datang lagi. Baru Sinovak yang datang dan segera digunakan padahal masih cukup banyak vaksin yang rencananya digunakan, antara lain vaksin buatan Bio Farma.

Menurut rencana Kementerian Kesehatan RI, vaksinasi akan mulai dilakukan akhir 2020 atau awal 2021. Penduduk yuang akan mendapat vaksinasi hanya sekira 30 persen dari jumlah penduduik yang layak mendapat vaksinasi secara gratis. Penduduk lainnya sejumlah 70 persen diharapkan dapat melakukan vaksinasi secara mandiri. Mereka harus membeli vaksin  yang harganya belum benar-benar pasti. Namun diperkrakan cukup mahal terutama bagi rakyat kecil.

Penyebaran Covid 19 akhir-akhir ini semakin massif bahkan lebih luas dibanding penyebaran awal. Kota dan Kabupaten Bandung kembali masuk ke zona merah bahkan ada beberapa kelurahan/desa yang warna merahnya lebih tua menuju hitam. Senin kemarin angka penyebaran Covid-19 di Jawa Barat meningkat. Tercatat ada 36.924 penderita yang diisolasi/dirawat di berbagai RS dan pusat=pusat karantina. Pasien yang dinyatakan sembuh mencapai 26.671 orang dan meninmggal 2.288 orang. Secara nasional angka itu juga terus meningkat. Menurut Badan Percepatan Penanganan Covid-19, sampai hari  Senin kemarin pasien Covid-19 mencapai 623.189 orang meskipun penderita sembuh juga terjus naik dan jumlah yang meninggal dunia terus turun.

Vaksinasi gratis akan mendahulukan oang berusia 50 tahun ke bawah. Sedangkan orang yang berusia di atas 60 tahun diarahkan ke vaksinansi mandiri. Bagi kalangan beduit, vaksin berharga antara Rp 400.000 – Rp 500.000,- perpaket, tentu saja tidak menjadi masalah benar. Jangankan hanya untuk vaksinasi, berobat ke rumah sakit termahal bahkan ke luar negeri, mereka sudah terbiasa. Namun bagi rakyat biasa, harga  itu terlalu tinggi. Daripada harus mengeluarkan biaya besar, mereka lebih memilih tidak melakukan vaksinasi. Hal itu sangat berbahaya, Covid-19 akan tetap bergentayangan di Indonesia.

Baca Juga :   Serbuan Tenaga Kerja Asing

Jumlah 30 persen dari jumlah penduduk tentu sangat kecail. Jumlah itu tidak berarti apa-apa bagi upaya penekanan pernyebaran Covid-19. Benar, usia 50 tahun ke bawah merupakan usia produktif yang harus mendapat keistrimewaan dalam peningkatan imunisasinya. Pada diri merekalah masa depan bangsa. Mereka harus sehat, kuat, imun terhadap berbagai virus atau wabah.  Namun orang berusia di atas 70 tahun, justru paling rentan terpapar Covid-19 bahkan berbagai virus, wabah, dan penyakit lain. Mereka banyak yang memiliki penyakit bawaan, sepertki jantung, paru-paru, asma, dan sebagainya. Orang-orang sepertki itulah yang menjadi sasaran utama corona.

Dilihat dari segi ekonomi, vaksinasi berbayar, tentu akan sangat menguntungkan dalam arti, uang akan masuk. Namun dari segi penyebaran wabah Covid, akan sangat merugikan. Diharapkan, ketika Indonesia sudah benar-benar mampu memproduksi vaksin secara mandiri, vaksinasi seyogianya merata untuk segala umur dan gratis. Bahwa ada sekelompok masyarakat yang punya kemampuan financsal lebih, silakan vaksinasi mandiri sebagai salah satu amal soleh.

Di Indonesia msih ada kelompok masyarakat yang mungkin tidak mau iku program vaksinasi. Mereka tidak percaya adanyua wabah corona yang mengakibatkan tumbuhnya Covid-19. Apa tindakan pemerintah terhadap orang-oang itu? Lakukanlah sosialisasi secara masif. Apabila tidak berhasil, awasilah mereka agar tidak menjadi sumber penyebaran Covid-19. ***