Kurang Gizi Memprihatinkan

218

   ADA berita pada media masa, di Kota Tasikmalaya terdapat 4.283 anak yang menderita kekurangan gizi atau 8,4% dari 51.070 anak. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Cecep Zaenal Kholis,angka itu masih di bawah angka nasional yang mencapai 15%. Hal itu dikatakan Cecep, seperti dimuat PR 23/8.

   Kalau saja angka-angka itu benar, pemerintah dan bangsa Indonesia patut prihatin. Masalahnya, gizi buruk merupakan cermin buruknya penanggulangan kesehatan masyarakat. Gizi buruk juga menjadi tolok ukur tingkat kesejahteraan rakyat. Pada umumnya orang tua yang anaknya menderita kurang gizi  atau gizi buruk karena faktor ekonomi. Di Indonesia masih banyak yang terkena dampak rendahnya pertumbuhan ekonomi. Daya beli sebagian masyarakat masih rendah, keluarga tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi untuk anak-anak dan orang tuanya.

    Penyebab paling mendasar rendahnya gizi masyarakat ialah pendidikan. Pengetahuan masyarakat terhadap gizi, harus diakui memang sangat rendah. Pola konsumsi sebagian besar rakyat masih tetap pada satu tujuan yakni ”kenyang” Padahal kenyang tidak berarti kebutuhan akan gizi sudah terpenuhi. Bangsa kita belum memiliki kebiasaan mengukur kadar gizi makanan yang akan mereka konsumsi. Apalagi pengetahuan tentang perbandingan karbohidrat dan jenis-jenis  vitamin yang terkandung pada makanan.

    Bangsa Indonesia sejak zaman penjajahan diberi tahu—di sekolah—tentang makanan sehat. ”Empat Sehat Lima Sempurna”. Namun hal itu hanya ada pada buku teks anak-anak didik. Di rumah mereka tidak dapat menuntut kepada orangtua mereka agar selalau disediakan makanan yang memenuhi slogan tersebut. Selain orang tua mereka tidak memahami masalah gizi, mereka juga tidak mampu memenuhinya karena faktor ekonomi dan kebiasaan. Mereka tidak pernah merasa wajib menyediakan susu untuk minuman keluarga. Kebanyakan rakyat Indonesia tidak merasa terlalu perlu menyediakan buah-buahan sebegai pelengkap konsumsi sehari-hari. Mereka tidak paham malah tidak peduli terhadap apa saja yang terkandung pada lalapan, ikan asin, sayur kangkung, dan sambal.Mereka mengonsusinya tiap kali makan karena hanya itu yang ada. Mereka tidak mampu  membeli makanan selain itu.

    Jawa Barat merupakan sentra beras dan holtikultura. Kebutuhan karbohidrat dari beras, jagung, singkong, talas, dan sebagainya, dapat terpenuhi. Sayuran, ikan air tawar dan laut, dan buah-buahan sangat banyak dan berjenis-jenis, Semuanya menyediakan gizi cukup. Akan tetapi masih cukup banyak rakyat yang kekurangan gizi dan anak-anak yang menderita gizi buruk.

    Setelah 73 tahun merdeka, pola makan bangsa ini belum berbasis nilai gizi. Angka 15% rakyat yang lapar gizi bagi Indonesia yang berpenduduk 250 juta tentu sangat besar. Sebaiknya program utama dan pertama pemerintah pusat, provinsi, kota dan kabupaten di Jawa Barat adalah peningkatan nilai gizi pada makanan. Hal itu berkaitan amat erat dengan pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pemerataan pembangunan antara kota dan perdesaan. Sekarang pemerataan itu tengah diupayakan pemerintah dengan pembangunan infrastruktur, pengalokasian dana desa, dan upaya lainnya.

    Ternyata pembangunan fisik itu akan terasa manfaatnya oleh rakyat banyak apabila disertai dengan upaya peningkatan pengetahuan rakyat tentang kesehatan, termasuik pola makan dan asupan gizi. Tenaga kesehatan diharapkan lebih sering terjun ke tengah rakyat memberi penerangan tentang hidup sehat, memilih dan memilah sumber makanan yang tersedia di lingkungannya, bagaimana cara memasak dan menyajikannya sehingga makanan itu tetap mengandung gizi, vitamin, bahkan nutrisi. ***