Lebih Dari 100 Dokter Yang Menangani Covid 19 Meninggal IDI Memetakan Berbagai Faktor Penyebabnya

24

BISNIS BANDUNG – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) membenarkan , kabar duka dari tenaga kesehatan yang meninggal akibat Covid-19 terus terdengar dan jumlahnya bertambah. Lebih dari 100 dokter di Indonesia meninggal karena tugasnya sebagai garda terdepan menangani virus korona, belum termasuk perawat.

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr. Mohammad Adib Khumaidi mengatakan, pihaknya sedang berusaha membuat peta terkait apa saja faktor penyebab meninggalnya para dokter. Termasuk daerah mana saja yang paling berisiko.

“Ya 100 dokter yang meninggal. Tapi kami masih mau coba buat tabling data dulu. Umur berapa, daerah mana, ada faktor komorbid atau tidak. Lakukan pelayanan di mana. Saya sudah diskusikan,” ujar dr. Adib, baru-baru ini .

Dikemukakan Adib, pemetaan ini penting untuk dilakukan agar lebih jelas. Sehingga risiko kematian dokter bisa ditekan. Kami enggak mau IDI seolah terkesan hanya ucapan duka cita doang.

“Kami belum bisa ngomong sekarang (detail kematian dokter). Kami lagi tabling data dulu. Kami buat pemetaan awal, maping dulu. Ini penting untuk penekanan problem risiko,” ungkapnya.

Jika dilihat daerahnya, untuk wilayah Jawa Timur saja mencatat 27 orang dokter meninggal dunia. Dan di Jakarta dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) di bawah 10 orang.

Ketika disinggung terkait banyak dokter yang gugur di dalam negeri dibandingkan negara tetangga, IDI  tak  menanggapi hal tersebut. “Dibandingkan data luar negeri, masih kami cari perbandingan datanya. Karena data di luar negeri juga berubah-ubah,” jelasnya.

Kelelahan

Tak bisa dipungkiri, di tengah banyaknya kasus baru Covid-19 setiap hari membuat dokter kelelahan. Saat ini, jam kerja dokter sudah dibagi menjadi 3 shift dan tak bisa ditambah lagi bebannya. Jumlah SDM harus ditambah.

“Jam kerja harus proporsional. Kelelahan bisa jadi faktor penyebab, kekurangan APD juga masih masuk di dalamnya,” kata  Adib.

Begitu juga ketika dokter pulang ke rumah dan bertemu dengan banyak orang di dalam komunitas, bisa saja penularan terjadi. Sehingga bukan selalu tertular dari pasien atau saat melakukan pelayanan.

“Karena kita kan dalam kehidupan sosial, kita bertemu dengan orang lain siapa saja, bisa berdampak juga. Yang kami dorong adalah perilaku safety. Baik itu pelayanan, dan komunitas,” ujar Adib.

Sebelumnya sebagai sesama dokter, Dekan FKUI Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB prihatin para dokter gugur akibat Covid-19. Dan rata-rata tertular karena berbagai faktor, mulai dari  komorbid, tertular dari pasien, hingga terinfeksi karena berjuang di garda terdepan.

Menurut  Ari Fahrial , tak bisa  dikatakan tenaga medis abai atau tak disiplin. Sebab beban kerja dokter ditambah stres selama pandemi, bisa memicu penularan virus.

“Tak bisa dibilang abai, beban dokter tersebut berat lho. Tentu ini saling berhubungan semua. Misalnya kita ambil contoh, beban kerja dokter yang tinggi, bisa saja membuat kelelahan. Kami juga stres lho mengetahui beberapa pasien yang kami rawat misalnya karena positif Covid-19. Lalu kami kontak sebelumnya. Stres lho kerja seperti itu,  sudah makanan kami sehari-hari,” ungkapnya, Pemerintah menyediakan dana insentif untuk tenaga medis yang menangani Covid-19.

untuk Dokter spesialis akan mendapatkan insentif Rp 15 juta. Dokter umum Rp 10 juta dan tenaga kesehatan bukan dokter Rp 7,5 juta. Insentif  dikirim ke rekening tenaga medis yang bersangkutan setiap bulan. Transfer ke rekening masing-masing itu dilakukan karena sebelumnya pemberian insentif berjalan lambat. (B-003) ***