Lima Tahun Terakhir Tren Ekspor Indonesia Ke Israel Naik 8,6  %

3
Tren Ekspor Indonesia Ke Israel

BISNIS BANDUNG— Mesti dipahami Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Bukan berarti kedua negara tidak memiliki hubungan dagang, berdasarkan data Badan Pusar Statistik (BPS) nilai impor Indonesia dari Israel selama 2016-2020 sebesar 345,45 juta dollar AS atau setara Rp 4,9 triliun.

Pada tahun  Tahun 2020, total nilai ekspor Indonesia ke Israel adalah 157,53 juta dollar AS. Sehingga, tahun lalu Indonesia mengalami surplus dalam perdagangan dengan Israel sebesar 100,99 juta dollar AS. Ini menunjukan tren positif hubungan dagang Indonesia dan Israel. Walaupun tidak memiliki hubungan resmi akan tetapi hubungan dagang kedua negara tidak memiliki kendala berarti.

“Pertanyaannya bagaimana barang-barang Israel bisa masuk ke Indonesia? Pintu masuk  produk-produk dari Israel ke Indonesia ada dua. Pertama bisa langsung di bawa dari Israel, kedua melewati negara ketiga sebagai tempat persinggahan, seperti Singapura,” tutur   pakar perdagangan internasional Universitas Widyatama, Dwi Fauziansyah Moenardy, S.IP, MI. Pol  kepada Bisnis Bandung, Senin (24/5/2021).

Dari data tahun lalu, tahun 2020 bisa dilihat bahwa Indonesia mengalami surplus, yang artinya nilai ekspor lebih besar daripad nilai impor produk Indonesia ke Israel sehingga dapat disimpulkan hubungan perdagangan dari tahun lalu menguntungkan Indonesia. Sebagai negara berkembang, Indonesia memiliki keunggulan sumber daya alam dan produk-produk padat karya, dalam hubungan dagang dengan Israel Indonesia saat ini masih mengandalkan ekspor raw material seperti batubara dan crude palm oil (CPO).

Berdasarkan data BPS dari tahun 2016 Trend ekspor Indonesia ke Israel mengalami fluktuatif Pada 2016, Indonesia membeli produk Israel senilai 109,93 juta dollar AS, lalu di 2017 turun menjadi 106,95 juta dollar AS. Pada 2018, impor Indonesia dari Israel kembali turun menjadi 46,68 juta dollar AS. Selanjutnya, pada 2019 nilai impornya turun menjadi 25,33 juta dollar AS dan naik signifikan di 2020 menjadi 56,53 juta dollar AS (BPS 2016-2020).

Dwi Fauziansyah mengungkapkan, walaupun selama 5 tahun ini fluktuatif akan tetapi trendnya cenderung positif bagi Indonesia, Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, selama 5 tahun terakhir atau dari tahun 2016 hingga 2020, ekspor Indonesia ke Israel meningkat 8,6 persen. Secara teperinci, pada tahun 2016, ekspor Indonesia mencapai USD 103,1. Jumlahnya naik menjadi USD 125,9 juta pada 2017, USD 123 juta pada 2018, USD 120,6 pada 2019 dan USD 157,5 juta pada 2020.

Adapun pada periode Januari-Maret 2021, ekspor Indonesia ke Israel mencapai USD 47,5 juta. Sementara, periode Januari-Maret 2021, nilainya USD 3,1 juta. Pada periode Januari-Maret 2021, neraca dagang Indonesia-Israel masih surplus USD 44,3 juta.

Berdasarkan data ini hubungan dagang antara kedua negara layak untuk dilanjutkan karena saling ketergantungan antara kedua negara yang jelas memiliki keunggulan yang berbeda, sesuai dengan keunggulan komparatif masing-masing negara.

Salah satu komoditi yang di impor dari Israel adalah kurma, selain kurma Israel merupakan negara yang unggul dalam pengembangan teknologi. Kemampuan Israel dalam mengolah padang pasir yang tandus jadi lahan pertanian yang subur. Beberapa negara yang pernah bekerjasama dengan Israel berhasil mentransfer teknologi dari Israel. Di Asia Tenggara ada Vietnam dan Thailand yang berhasil mentransfer teknologi pertanian dari Israel ke negaranya. Hasilnya, mereka maju dalam mengembangkan pertanian di negaranya. Ini terbukti hasil pertanian Thailand dan Vietnam banyak di impor oleh Indonesia.

Menurut Akademisi Universitas Widyatama ini, sebagai negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia dan sudah komitmen negara Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina, telah ditegaskan bahwa Indonesia tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel, akan tetapi untuk hubungan dagang terus dapat dilanjutkan sesuai dengan keunggulan komparatif tiap negara dan untuk memperluas market place para pelaku usaha dagang Indonesia.

Karena melihat tren dagang yang positif bagi Indonesia. Dengan keunggulan komparatif yang dimiliki masing-masing negara bukan berarti tidak bisa diganti dengan negara lain. Secara dagang setiap pelaku usaha diberbagai negara akan mengejar kualitas dan keuntungan sehingga tidak menutup kemungkinan hubungan dagang tetap terjadi antara kedua negar.  (E-018)***