Masa Terindah bagi Para Pensiunan

21928
Masa Terindah bagi Para Pensiunan

   JANGAN menyangka pensiunan itu enak. Stres, jenuh, silaturahmi putus. Malah banyak pula yang mengalami power sindrom. Para pensiunan, khususnya mantan pejabat, mengalami perubahan total yang dirasakannya sangat mendadak. Ia merasa masih punya jabatan, biasa dilayani bawahan, punya mobil dinas berikut sopirnya. Keluar masuk mobil, pintu mobil sudah dibukan sopir atau ajudan.

    Karena kebiasaan itu, setelah pensiun ia tetap ingin dilayani, bahkan selalu mengenakan pakaian seragam kantor.  Perintahnya harus selalu dituruti istri, anak, atau pembantu.  Kalau tidak segera berkonsultasi dengan psikolog, ia akan menderita kelainan jiwa, gila, atau setidaknya cepat pikun atau alzaimer. Agar tidak mengalami sindrom seperti itu, orang yang mendekati masa pensiun, diwajibkan mempersiapkan diri dalam tenggat waktu yang biasa disebut masa persiapan pensiun (MPP). Di sebuah kantor yang baik, para calon pensiun itu diberi bimbingan, baik secara fisik maupun psikis. Ada bimbingan berwirausaha, bertani, dan pola hidup sehat.

    Hidup dengan uang pensiun yang hanya setengah dari gaji yang ia terima setiap bulan, ia dan keluarga harus mampu hidup sejahtera. Ia dapat menikmati masa tuanya dengan nyaman, sehat, dan gembira. Banyak sekali kegiatan yang dapat ia ikuti, baik di daerah tempat tinggalnya maupun di organisasi yang berkaitan dengan hobi. Hanya orang-orang yang punya sikap hidup seperti itu, pensiun bukan merupakan siksaan, bahkan merupakan masa-masa indah. Menurut bahasa agama, semua itu akan terasa penuh hikmah apabila kita bersyukur, menerima apa yang kita dapatkan hari ini.

    Sekarang, pada masa pandemi yang sudah lebih dari setengah tahun, para pekerja atau pegawai apalagi pegawai swasta, merasa sangat terpukul. Banyak yang di-PHK, jam kerja dikurangi sampai setengahnya, gaji pasti tidak penuh. Selain hanya setengah gaji, diterimanya juga sering kali tidak tepat waktu. Tidak dapat berbuat apa-apa lagi, kecuali pasrah. Dalam situasi seperti ini, justru para pensiunan harus benar-benar bersyukur. Mereka sudah masanya tinggal di rumah dengan mendapat uang pensiun. Bukan harus tinggal di rumah karena terpaksa akibat Covid-19.

     Harus kita akui, masa pandemi bagi para pensiunan, merupakan masa-masa nyaman. Tanpa dipaksa, mereka sudah biasa tinggal di rumah. Para pekerja yang dipaksa perusahaan bekerja dari rumah atau PHK justru merasa sangat jenuh. Tidak punya pekerjaan pendapatan hilang. Banyak yang stress, tensi naik tiba-tiba, jantung berdebar-debar, cemas, berprasangka buruk terhadap apa pun yang ia hadapi. Seyogianya kita segera menentukan langkah baru. Sekarang sudah tidak musim lagi mengeluh atau merasa gengsi ketika harus menjadi pedagang keliling, berjualan serabi, bubur ayam, angkringan, atau apa saja yang dapat mendatangkan laba.

     Para pensiunan tinggal bersyukur. Nikmati hidup , mafaatkan sisa umur untuk kepentingan masyarakat. Beribadah dengan sabar dan sungguh-sungguh sebagai tabungan untuk bekal dalam perjalanan panjang menuju alam akhirat. Bersyukurlah senantiasa. Sedangkan bagi orang-orang yang menderita akibat Covid-19, hindarilah stress, strocke, pikun, dan sakit parah. Ikuti protokol kesehatan, jangan lupa berdoa, semoga kita semua segera dibebaskan dari belenggu ketidak-nyamanan ini.  ***