Masih Ada yang Tertipu

197
Masih Ada yang Tertipu

SEBANYAK 165 orang melapor ke polisi karena merasa ditipu Direktur CV Hoki Abadi Jaya berinisial HA. Dari 165 orang itu terkumpul uang Rp 11,3 miliar. Para korban menyetorkan uang kepada HA yang berjanji akan memberikan hewan kurban pada saat Idul Adha berupa sapi dan uang setoran berikut bunga yang cukup besar. Namun sampai 30 Juli, janji HA itu tidak terbukti. Para korban yang mendatangi rumah HA di Cianjur mendapati rumahnya kosong, HA lari membawa uang para korban.

      Para korban merasa percaya menanamkan uangnya di CV itu karena diiming-imingi janji yang sangat menggiurkan. Mereka akan mendapatkan hewan kurban, paket umroh, dan keuntungan lainnya dari uang yang mereka setorkan. Para korban yang kebanyakan buruh pabrik di Bandung, Cianjur, dan Sukabumi itu meminta polisi segera menangkap HA dan harus dapat mengembalikan uang yang mereka tanam. Mereka menyetorkan uang jutaan rupiah.

     Pihak kepolisian mulai mengumpulkan data dari para korban dan segera melakukan penyelidikan, Masyarakat berharap pelaku dapat segera tertangkap dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kemungkinan besar, pelaku kabur ke luar Jawa namun polisi telah memiliki identitas pelaku.

     Penipuan investasi bodong itu sudah sangat sering. Korbannya juga selalu banyak dengan jumlah investasi yang sangat besar, di atas 10 miliar rupiah. Anehnya, modus operansi yang boleh dikatakan sangat “klasik” dan diketahui banyak orang, tetap saja berhasil. Masih banyak orang tertipu. Sampai sekarang bahkan mungkin sampai kapan pun, tipu menipu menyangkut investasi, umroh, arisan, dan sebagainya akan terus ada. Masyarakat kita masih banyak yang tergiur dengan janji dan keuntungan besar.

     Masih banyak orang yang percaya begitu saja terhadap penghimpun dana seperti itu. Padahal, media massa sangat sering memuat berita tentang penipuan berdalih investasi. Kebanyakan berakhir dengan kerugian yang lumayan besar. Banyak pelaku yang sudah tertangkap, banyak korban yang tidak pernah mendapatkan kembali uangnya. Mengapa orang tidak kapok dan tidak berhati-hati dalam betrinvestasi. Seharusnya mereka tahu, investasi dengan keuntungan besar itu tidak mungkin terlaksana.

      Secara logika, tidak mungkin ada orang atau perusahaan yang mampu menyediakan keuntungan fantastis, di luar kewajaran. Perusahaan besar dengan investasi triliunan saja, keuntungan yang dijanjikan bagi para investor, biasanya dalam jumlah yang wajar. Tidak berlebihan. Tampaknya masyarakat kita masih butuh penerangan yang masif tentang investasi, tabungan, dan arisan yang baik. Masyarakat terlalu berharap mendapat rezeki nomplok atau kaya mendadak. Masih banyak orang yang tidak tahu atau mungkin tidak percaya terhadap lembaga keuangan yang legal. Mereka tidak paham bagaimana cara berinvestasi yang resmi dan aman. Mereka sama sekali buta terhadap pasar saham. Mereka merasa sulit ketika akan menabung di bank, koperasi, dan lembaga keuangan lainnya. Banyak sekali contoh minus penyelenggaraan koperasi setempat, mereka enggan dan segan masuk bank. Apalagi kalau harus masuk pasar modal yang hiruk pikuk dan tidak mengenal kerja piliang dan tata cara jual beli saham. Kita belum pernah melakukan edukasi penanaman modal terhadap masyarakat, terutama masyarakat bawah.

Akhirnya masyarakat awam tergiur dengan keuntungan besar tanpa harus keluar masuk lembaga keuangan resmi. Mereka merasa “seram” harus masuk bank yang kantornya mewah dengan penjagaan ketat. Para penipu berkedok investasi dengan keuntungan superbesar, justru datang lansung kepada calon korbannya. Tanpa prosedur yang berbelit-belit, mereka dapat menanamkan uangnya. Keuntungan belipat ganda, seolah sudah ada di depan mata. Mereka tidak tahu sama sekali, saat uangnya diberikan kepada perusahaan investasi bodong itu, sama dengan cara mudah membuang uang. ***