Masuki Era Disrupsi Hanya Orang Inovatif yang Bisa Bertahan

19

BISNIS BANDUNG – Sebuah perubahan besar dalam  tatanan kehidupan adalah masuknya era disrupsi. Hanya  orang-orang  inovatif   yang bisa bertahan, akibatnya 75 juta pekerjaan akan  ditinggalkan  tergantikan  oleh 133 juta pekerjaan baru.

Berbicara pada “Forum  perangkat daerah bidang ketenagakerjaan dan ketrasmigrasian”  yang dihadiri  Kepala Disnakertarns Jabar, M.Ade Afriandi dan Wakil Ketua Komisi V DPRD Jabar, Abdul Hadi Wijaya di sebuah hotel  Kota Bandung, Selasa(25/2/2020), Sekretaris  Daerah  Provinsi Jawa Barat, Setiawan Wangsaatmaja mengungkapkan sistem pemerintahan, swastanisasi dan politik semua sudah terkoneksi satu sama lainnya secara digital.

Menurut Sekda Jabar yang  belum lama ini  dilantik,  keunggulan-keunggulan negara lain sepatutnya diantisipasi. Sebab kalau masih dalam kondisi tersekat-sekat,  bermental kurang baik atau silent mentality  dan tidak mempunyai daya dukung   akan mengalami kesulitan.

“Begitu pula dalam dunia usaha,  satu perusahaan muncul akan dihantam oleh perusahaan lain. Dan yang  unggul adalah yang lebih inovatif,” tuturnya seraya menambahkan 75 juta jenis pekerjaan yang hilang itu  karena faktor teknologi. Namun muncul 133 juta yang  merupakan  kreasi baru.

Putera  mantan Walikota Bandung, Husen Wangsaatmaja itu  melukiskan realita pemakaian internet  secara nasional. Penduduk  Indonesia itu  sekira 268 juta,  akan tetapi yang punya handphone  lebih  355 juta. Di Jawa Barat sendiri yang aktif di media sosial sekitar 86 persen  dari jumkah penduduk  sekira 49 juta. Artinya keunggulan teknologi itu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Setiawan mengingatkan, saat ini penggunaan teknologi digital sudah demikian masifnya, itu berarti puluhan juta pekerjaan lama akan  tergantikan puluhan juta pekerjaan baru yang benar-benar baru, bukan pengembangan dari pekerjaan sebelumnya.

Menyoroti  bahwa Jawa Barat sudah memasuki era bonus demografi sejak sembilan tahun yang , Setiawan  mengutarakan   saat ini penduduk yang dalam usia produktif  itu  lebih besar dibanding usia yang tidak produktif. Saat ini sekitar 64,7 persen penduduk Jawa Barat merupakan usia produktif.

“Bonus demografi ini harus dimanfaatkan dan Jawa Barat punya waktu sampai tahun 2035. Lewat dari itu, usia yang tidak produktif akan lebih banyak lagi dibanding yang produktif,” ucapnya.

Jawa Barat juga masih menyisakan 1,9 juta pengangguran di ahir tahun 2019. Ini menjadi tantangan, karena dalam mengentaskan 1,9 juta pengangguran, tidak bisa hanya melalui program pemerintah. (B-002)***