Masyarakat Butuh Sosialisasi PSBB

21

TAMPAKNYA  sederhana, PSBB hanya merupakan kelanjtam dari pembatasan sosial berskala kecil. Bedanya, PSBB, pembatasan socsal yang diwarnai sanksi. Semua orang diminta tinggal di rumah masing-masing. Siapa saja yang berani keluar rumah, ditegur. Mobil  dilihat jumlah penumpangnya.Semua irang ang betrada di luar rumah harus menggunakan masker. 

Pelaksanaan PSBB, apalagi disertai sanksi, harus dipahami masyarakat secara luas. Rakyat yang memahami pelaksanaan dan tujuan PSBB, pati tidak akan berani melanggarnya. Masyarakat akan memahami peraturan dan tujuan PSBB melalui sosialisasi yang masif. Sosialisasi hanya dengan bentuk keterangan pejabat, melalui televisi nasional, tentu tidak cukup, dan tidak efektif. Masih banyak anggota masyarakat yang memaki-maki Ketua DKM, karena di mesijd di lingkungannya tidak diselenggarakan salat Jumat dan salah berjamaah.

Dalam sosialissi penyebaran dan penanggulangan corona, peran media m,assa tentu sangat besar. Masyarakat tahu tentang penyebatran covid-19, jumlah orang terpapar, baik yang positif covid-19 maupun yang sembuh atau meninmggal dunia, diketahu masyarakat melalui media massa. Bahkan penitupan Masjidil Haram, Nabawi di Makkah dan Madinah, diketahui masyarakat  karena ada berita pada media massa.

Berkaitan dengan itu,pemeruintah daerah, provinsi, kota, dan kabupaten sebaiknya melakukan pendekatan terrhadap media massa di daerah. Baik lembaha penyiaran maupun media cetak, dan online, dipastikan tidak akan memuat berita hoaks berkaitan dengan corona itu. Media massa daerah (local) selalu mendapat berita dari sumber pertama dan berita terkonfirmasi.   Beberapa kali lembaga penyiaran Jakarta memuat berita nonkonfirmasi bahkan hoaks karena berita itu diambil dari medsos dan bukan dari sumber pertama.

Ada berita pada TV Jakarta yang menyatakan, Masjid Haram dan Masjid Nabawi sudah dibuka kembali. Berita itu sempat viral padahal berita itu benar-benar hoaks. Semua masjid dan Harom serta Nabawi, justru ditutup lebih rapat lagi. Yang boleh salat di san hanyalah pegawai pengurus masjid itu, orang luar, siapapun tidak boleh masuk. Pemetrintah Arab Saudi jkuiga membetrlakukan jam malam lebih awal yakni dari pk 15.00 sam;pai pk 06.00.

Berita hoaks lainnya, dikabarkan, 150 orang kalangan istana  Kefrajaan Arab Saudi terpapar covid-19, Raja Salman mengungsi.Menurut yutuber yang selalu ada di Makkah dan Madinah, tidak ada keluarga istana yan terpapar covid-19. Raja dan keluarga tidak mungkin menionggalkan istana karena ia yang mengeluakan maklumat jam malam yang semakin ketat.

Media massa lokal punya komitmen berjibaku mencari berita dari sumber pertama, terkonfirmasi, dan langsung serta resmi. Kontribusinya terhadap langkah pemerintah menanggulangi virus corona, sangat besar tidak dilatarbelakangi maksud maksud tertentu, baik politik maupun komersial. Wajar apabila pemerintah (daerah) menaruh perhatian lebih fokus terhadap keberadaan mdia masasa lokal.

Sebanyak 42 industri dikabarkan akan mendapat kompensasi akibat covid-19. Dari sebanyak itu, tidak tercantum industri pers. Orang media massa lokal, tidak mengharapkan bantuan, kompensasi, atau apa pun namanya dari pemerintah. Namun alangkah bijaknya bila pemerintah mengapresiasi kinerja media massa daerah (lokal). Sosialisasi semua program, baik yang berkaitan dengan corona maupun kebijakan lain, dapat disebarkan ke masyarakat luas melalui media massa lokal.

Baru-baru ini, Dewan Pers dan Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) mengajukan permohonan kepada pemerintah, industri pers dibebnaskan dari kewajiban membayar pajak. Permintaan itu tidak berlebihan, paling tidak, bagi keberlangsungan hidup media massa lokal . ***