Melanggengkan Kesementaraan

279

Kegaduhan dipastikan akan terus terjadi sepanjang belum ada ketegasan pemerintah. Seyogianya pemerintah memilih, moda angkutan mana yang boleh dan tidak boleh beroperasi. Apakah OP atau ONP? Atau ada pembagian daerah operasi atau rute? Yang penting pemerintah jangan membiarkan kedua kelompok itu berbenturan. Karena merasa sulit mengaturnya, biarkan saja mereka berbenturan sesuai dengan kebebasan berusaha.

Seyogianya pemerintah mengubur kebiasaan melanggengkan kesementaraan. Dulu angkot itu dibiarkan berkembang denagn asumsi, sifatnya sementara sebelum muncul angkuta masal. Ojeg dibiarkan berkembang sementara sebelum ada solusi angkutan rakyat yang memiliki legalitas sesuai dengan peeraturan yang ada. Sekarang bermunculan ONP serta taksi daring, dibiarkan berkembang sementara menunggui\ aturan yang tengah digodok. Akibat pembiaran itu timbullah gesrekan yang mungkin saja menimbulkan korban harta dan jiwa. Sering kali kita dengar ada mobil milik pribadi yang dirusak massa karena disangka grab/uber atau taksi liar. Ada orang yang dikeroyok karena disangka pengemudi ONP padahal sama sekali bukan.

Kesementaraan itu apabila dibuiarkan berlarut-larut akan menimbulkan masalah besar di kemudian hari. Pemerintah sering kali harus berhadapan dengan massa ketika harus melakukan pembongkaran bangunan liar di bantaran sungai, di atas trotoar, atrau di tepi rel kereta api. Bangunan-bangunanliar itu berkebang karena pemerintah menganggap semua bangubnan itu bersifat sementara. Pembiaran kesementaraan juga dapat terjadi pada bermunculannya berbagai organisasi. Pemerintah tidak secara antisipatif meneliti apakah paham yang dianut organisasi itu menyimpang, bertentangan dengan undang-undang, atau tidak. Tahu-tahu setelah organisasi, paham, kelompok massa itu besar, kita semua gelagapan.

Buatlah undang-undang atau peraturan yang masa lakunya panjang, lengkap, dan antisipatif. Jangan biarkan para operator moda angkutan rakyat terus menerus saling serang danĀ  bentrok, akibat ketidakpastian. ***