Membatasi Buah Impor Mesti Libatkan Swasta

198

BISNIS BANDUNG- Menghadang atau membatasi  maraknya buah impor mesti dilakukan secara keroyokan, karena persoalannya bukan ketidakmampuan teknis di kalangan peneliti.

Sebenarnya kemampuan teknis itu ada dan siap. Akan tetapi soal impor itu juga terkait bisnis swasta yang juga menyangkut berbagai hal. Makanya, untuk membendung buah impor juga mesti melibatkan pihak swasta yang harus membantu komersialisasi produk lokal.

Demikian dikemukakan  Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati pada acara Workshop Perlindungan Varietas Tanaman di Lembang , pekan ini. Ia menyebut  produk impor biasanya menang dalam tampilan dan kemasan, tidak dalam rasa dan itu poin utama. Di sini,  ada persoalan tentang ilmu pascapanen.

“Perlu ada beberapa peneliti untuk mengeroyok satu buah dari berbagai sudut. Termasuk daya tahan terhadap lalat buah yang bikin kulit buah lokal berbercak hitam,” katanya.

Tapi, kata dia, saking banyaknya ragam buah lokal juga membuat sulit menentukan satu atau dua buah yang akan dikeroyok.

“Durian di sini banyak sekali jenisnya. Jadi pengembangannya tidak fokus. Ini juga jadi persoalan,” katanya.

Dari sejumlah persoalan itu, LIPI sebenarnya punya metode yang bisa diandalkan, yaitu mengembangkan buah tanpa biji atau berbiji kecil.

Di sisi lain, peneliti LIPI itu menyatakan perlunya digembar-gemborkan keberadaan buah-buah langka yang harus diselamatkan.

“Misalnya buah bisbol yang rasanya campur-campur asem manis asin,” kata Enny.

Buah itu merupakan hasil eksplorasi yang bekerja sama dengan perusahaan swasta Astra.

Menurut dia, eksplorasi buah langka bukan hanya bisa dilakukan di hutan dan kawasan konservasi, tapi juga di halaman-halaman rumah.

“Nah, kerja sama dengan swasta itu melibatkan semua dealer mereka yang tersebar luas. Dari mereka terkumpul sejumlah tanaman langka yang dikirim oleh staf dealer perusahaan itu,” katanya.

Spesifikasi

Kepala Pusat Inovasi LIPI, Nurul Taufiqu Rochman mengungkapkan pemuliaan tanaman yang dilakukan lembaga ilmu pengetahuan akan lebih difokuskan pada jenis yang berfungsi sebagai sarana rekreasi dan kesehatan, berbeda dengan yang dikembangkan Kementerian Pertanian yang lebih untuk kebutuhan pokok.

“LIPI harus punya spesifikasi. Harus punya kekhasan dalam pemuliaan tanaman,” ujarnya seraya berujar perlindungan varietas tanaman (PVT) adalah hak eksklusif yang dimiliki pemulia tanaman terhadap bahan perbanyakan, seperti stek, anakan, dan jaringan biakan.

LIPI memiliki modal yang bagus untuk menggencarkan pemuliaan seperti itu karena lembaga penelitian itu bisa mengelola keragaman hayati yang ada di kebun raya, yang menyediakan beragam tanaman hias dan obat-obatan.

Nurul menyebut banyaknya anggrek yang dipajang di sebuah bandara, yang tentu saja nilai investasi untuk pengadaan tanaman yang bisa menyegarkan mata itu sangat tinggi. “Itu bisnis besar,” katanya.

Maka, kata dia, ketika dituntut bahwa hasil litbang, termasuk pemuliaan tanaman, harus memiliki kemanfaatan, tentu saja pemulia tanaman di LIPI mesti bisa mencari bunga-bunga yang memiliki nilai komersil.

Keberadaan PVT diharapkan dapat memacu inovasi dan invensi hayati, karena nilai komersil pemulianya dengan begitu juga terlindungi.(B-002)***