Membawakan Gaya Musik Ketimuran Parahyena Diseret ke Pengadilan

15

Berawal dari pertemanan di kampus ISBI di Bandung, akhirnya grup musik pop folk asal Bandung yang terbentuk pada tahun 2014, mencetus sebuah ide untuk membuat sebuah band dengan ramuan musik sederhana, namun memberi kesan menyenangkan. Line-up personilnya terdiri dari Sendy Novian (gitarlele, vokal), Fariz Alwan (bangsing), Radi Tajul (gitar), Iman Surya (violin), Saipul Anwar (kontrabass) dan Fajar Aditya (cajon) Kultur musik yang nyaris berbeda dari tiap personilnya yang memiliki ketertarikan dalam mendalami musik tradisional, sehingga menjadi sebuah keunikan yang membangun warna musik Parahyena itu sendiri.

Berkat kreatifitas mengadaptasi elemen musik-musik tradisional Nusantara dan menggabungkannya dengan gaya musik atau genre dari  musik barat dan timur secara umum. Beberapa single yang dimiliki mereka sperti Penari (2014), Ayakan (2015) hingga album perdananya yang dirilis pada tahun 2016 bertajuk RopeaJudul album ini mempunyai arti memperbaiki atau memperbaharui dalam bahasa Sunda. Pada tahun 2019, Parahyena mengeluarkan album kedua berjudul Kirata yang merupakan akronim dari “dikira-kira tapi nyata“. Sampai  akhirnya mereka  terseret menjadi terdakwa di DCDC Pengadilan Musik edisi 41 pada 28 Februari 2020 u di Kantin Nasion Rumah The Panas Dalam Kota Bandung. Bertindak sebagai dua Jaksa Penuntut, yaitu Budi Dalton dan Pidi Baiq,  bertindak sebagai pembela adalah Yoga (PHB) dan Ruly Cikapundung, sedangkan Majelis Hakim dipimpin oleh  Man (Jasad) dengan panitera  Eddi Brokoli .

Dikki Dwisaptono perwakilan dari DCDC menyebutkan , Parahyena merupakan salah satu band Indie dari kampus yang terseret di DCDC Pengadilan Musik episode ke-41 ini. Keunikan  band ini, sebelumnya sempat melakukan showcase dan  konsepnya unik , selain komposisi musik mereka memadukan unsur-unsur tradisional dengan musik modern . Alhasil bentuk musikalitas khas Nusantara (timur) disenyawakan dengan musik genre (barat) secara umum dan dieksplorasi bukan sebagai bentuk terasing, melainkan warna unik berbaur harmonis dalam kesatuan. Sehingga menjadi tujuh lagu instrumental dengan racikan gipsy, melodic core, swing, Arabic, latin, melayu yang diramu dan dibalut dengan bumbu Nusantara dengan menghadirkan ruang kreasi  Parahyena. Mereka juga merilis sebuah video klip dari lagu berjudul “Celeme n tree” yang disutradarai oleh SWKRS dan sempat di kupas oleh jaksa penuntut dalam DCDC Pengadilan Musik di hadapan para Coklatfriend dan para penggemar setianya.

Uwie Fitriyani perwakilan dari Pihak ATAP Promotions menambahkan , bahwa progres dari Pengadilan Musik mulai dari episode pertama hingga sekarang pihaknya tidak pernah merasa kerepotan , bahkan merasa penuh tantangan. Setiap selesai pengadilan musik selalu ada evaluasi-evaluasi untuk menata agar lebih baik  kedepannya. Uwie  menambahkan, band Parahyena memiliki keunikan tersendiri, walau datang dari kalangan kampus. namun tetap professional dalam memadukan segala unsur musik. (E-009)***