Menanam Disiplin Masyarakat

159
Menanam Disiplin Masyarakat

DI tengah pandemi Covid-19, Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, berencana menerapkan pendidikan militer bagi para mahasiswa. Menurut Wakil Menteri pertahanan, niat Prabowo itu akan didiskusikan dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbbud) Nadiem Makarim. Disebutkan pendidikan militer itu akan masuk ke dalam SKS. Para mahasiswa smester satu harus menempuh pendidikan bela negara sebagai bagian dari SKS.

Niat Menhan Prabowo melaksanakan pendidikan militer bagi mahasiswa di Indonesia bukan gagasan baru. Sejak lama, pendidikan bela negara itu sudah mengemuka pada setiap kali pemerintahan baru. Sejak tahun 70-an pendidikan bela negara sudah menjadi bahan diskusi yang tidak pernah selesai. Gubernur Jabar, Mashudi (1960 – 1970) menjadi salah seorang yang berjuang melaksanakan pendidikian bela negara. Pada beberapa kali diskusi, Mashudi, menekankan, masyarakat akan memiliki sikap disiplin apabila di Indonesia dilaksanakan pendidikan militer. “Bela negara merupakan kewajiban yang melekat pada diri masyarakat,” pendapat Mashudi, gubernur Jabar pertama yang berasal dari kalangan militer.

Hal itu dilakukan hampir di semua negara. Di AS, wajib militer dilakukan berdasarkan hukum dengan sanksi yang cukup berat bagi pemuda yang menolaknya. Salah seorang yang viral saat itu, -penolakan Casius Clay. Petinju legendaris itu terkena hukuman yang kemudian menjadi alasan penting bagi Ali menganut agama Islam. Kasus Ali itu pula yang kemudian menjadi bahan diskusi dan perlawanan  sebagaian masyarakat AS terhadap wajib militer.

Di Indonesia, wajib militer merupakan salah satu tuntutan sebagian masyarakat. Mereka melakukan perlawanan terhadap pemerintah, menolak gagasan tersebut. Para pemuka politik dan mahasiswa menilai wajib militer merupakan karpet merah bagi terwujudnya militerisme.  Kita tahu, militerisme merupakan bagian politik yang ingin melanggengkan kekuasaan militer. Sebagian masyarakat yang lain, justru sangat mendukung wajib militer diawali dengan pendidikian militer bagi pemuda, khususnya mahasiswa. Pendidikan militer atau bela negara akan menumbuhkan masyarakat yang disiplin, kecintaannya terhadap negara akan semakin kental.  Semua rakyat akan berdiri paling depan membela negara apabila negara mendapat gangguan. Selain itu, disiplin akan menjadi budaya atau sikap hidup masyuarakat. Mereka akan patuh terhadap semua peraturan dan undang-undang.

Kepatuhan itu bukan berarti masyarakat kehilangan kebebasannya. Masyarakat hanya patuh terhadap peraturan dan undang-undang, bukan patuh taat tehadap pemerintah atau pejabat. Pendidikan militer akan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan hukum, norma, dan kearifan. Hal itulah yang diharapkan Menhan dengan dilaksanakannya pendidikan militer.

Bisa jadi gagasan itu muncul kembali dari Kementerian Pertahanan, bukan hanya karena menterinya seorang militer tulen. Gagasan itu muncul setelah melihat bagaimana sikap sebagian masyarakat yang sama sekali tidak disiplin. Contoh yang paling nayata, banyak orang di Indonesia ini yang secara jelas-jelas tidak mau memenuhi protokol kesehatan. Banyak pula yang bersikap acuh tak acuh terhadap peraturan/undang-undang lalu lintas. Banyak sekali orang yang tidak mau antre, membuang sampah secara sembarangan, menggunakan hape di dalam pesawat yang sedang terbang. Tidak terpat waktu, ingkar janji, berjual beli di trotoar, vandalisme, dan ketidakdisiplinan lainnya.

Disiplin itu akan tumbuh melalui pendidikan. Sistem belajar mengajar kita masih belum menjangkau penerapan disiplin itu. Pendidikan militer sebagai wujud bela negara, asal tidak menjadi jalan menuju militerisme, patut didiskusikan ulang. ***