Mengapa Masih Banyak Mahasiswa Salah Jurusan

465
Mengapa Masih Banyak Mahasiswa Salah Jurusan

BISNIS BANDUNG– Pengamat Ekonomi dan Bisnis dari Universitas Widyatama (Utama), Aida Wijaya menyatakan  selama  menjadi  mahasiswa, berapa kali  mendengar istilah  salah jurusan ?

Bisa jadi ini akibat calon mahasiswa terlalu “merdeka” ketika memilih jurusan untuk kuliah. Peran orang tua bisa berdampak pada salah jurusan jika orang tua memaksakan kehendaknya kepada anak.

Bisa juga karena orang tua  memberikan kebebasan kepada anaknya untuk memilih jurusan. Padahal untuk bisa  merdeka  seseorang harus punya kemampuan mandiri. Umumnya di Indonesia, seorang anak yang baru lulus sekolah menengah atas belum memiliki kemandirian demikian. Dari latar belakang tersebut, terjadilah situasi “salah jurusan.”

Menurut Pengamat Eknomi dan Bisnis  dari Universitas Widyatama (Utama), Aida Wijaya  kepada Bisnis Bandung, sering dijumpai mahasiswa yang memiliki minat dan kemampuan yang sangat jauh berbeda dari jurusan yang diampunya.  Misalnya kuliah di jurusan manajemen, tapi sebenarnya  sangat hebat  berpuisi.

Mahasiswa  biasanya baru tampak ketika mendapatkan kesempatan yang tepat, misalnya ketika aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Tidak jarang, minat dan kemampuan terpendam tersebut tidak bisa diasah karena organisasi kemahasiswaan di kampusnya tidak ada yang sesuai.

Lebih disayangkan lagi jika keahlian terpendam itu kemudian  terlupakan  oleh kesempitan waktu untuk menyelesaikan pendidikan formal dan “terhilangkan” ketika akhirnya masuk di dunia kerja.

Seiring dengan perkembangan biologis menjadi dewasa, mahasiswa cenderung menyadari potensi dirinya setelah menjalani kuliah beberapa semester. Dalam proses ini akan tampak apakah memang jurusan yang semula dipilih memang tepat, atau ada daya tarik lain yang sebenarnya merupakan potensi dirinya yang selama ini tidak terdeteksi.

Dalam program kampus yang konvensional saat ini, materi yang diberikan kepada mahasiswa sudah terpatok dan tidak dapat diubah atau disesuaikan sesuai perkembangan diri mahasiswa. Untuk berpindah jurusan juga tidak mudah, meskipun masih satu kampus. Apalagi kalau harus pindah perguruan tinggi. Biaya tinggi, waktu semakin panjang. Betapa mahal harga “salah jurusan” ini bagi kualitas diri seseorang.

Aida Wijaya mengatakan, ide kampus merdeka menjadi ajang yang sempurna bagi mahasiswa yang dikatakan “salah jurusan” ini. Ketika mahasiswa diberikan kesempatan untuk menimba ilmu apapun yang sesuai dengan kemampuannya, namun tetap melalui jalur formal, mahasiswa memperoleh manfaat yang besar. Karena – tanpa kehilangan waktu – mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan formal sekaligus memperdalam keahlian dirinya yang sesungguhnya.

Kampus merdeka bagi mahasiswa pada waktunya akan menjadi salah satu tuntutan dari calon mahasiswa baru. Sedari awal mereka dibukakan mata mengenai apakah kampus yang akan dimasukinya nanti akan mampu memenuhi tuntutan yang timbul dari potensi dirinya kelak.

Bagi kampus, tuntutan tersebut akan menjadi belenggu yang akan memaksa untuk terus-menerus berkemampuan menciptakan sarana bagi pemenuhan kebutuhan mahasiswanya yang semakin individual dan beragam. Padahal dengan berbagai peraturan yang harus dipenuhi, berbagai tuntutan dokumentasi dan laporan yang harus disiapkan oleh dosen, sudah sempit waktu yang dimiliki untuk peningkatan kualitas secara riil. Masih kemudian ditambah lagi dengan keharusan melakukan bimbingan bagi mahasiswa dengan kemampuan yang mungkin sangat berbeda dari jurusan yang diampu oleh dosen.

Kenyataan saat ini, di satu sisi, “peraturan” (evaluator otoritas) masih memberi “nilai lebih” jika dosen mengajar keilmuan yang linier dengan pendidikannya. Dosen lulusan dari jurusan yang berbau “praktisi” sering dianggap tidak lebih tinggi ilmunya dibandingkan jurusan yang berorientasi keilmuan, sehingga dianggap kurang layak mengajar.

Seseorang yang hanya mengenyam pendidikan Strata-1, tidak akan bisa mengajar di strata yang sama, bagaimanapun pintarnya dia di dunia kerja. Itulah mengapa ketika seseorang menjadi pakar di dunia kerja, banyak yang kemudian harus kembali kuliah demi untuk dapat “diakui” kepakarannya.(E-018)***