Mengapa Mesti Panik?

12

Penutupan wilayah Arab Saudi dari jamaah, tidak terlalu mengganggu aktivitas ibadah di tanah Suci. Merebaknya virus corona, sebeltulnya tidak terlalu menakutkan para jamaah dan penduduk Mekah-Madinah. Namun keputusan Keajaan Arab Saudi itu  menimbulkan dampak luar biasa, terutrama secara ekonomi.

Maskapai penerbangan yang biasa melayanmi para jamaah umroh setiap hari pergi pulang, terpapar kerugian sangat besar. Penyelenggara travel umroh terpaksa tidak dapat mengirimkan jamaahnya selama batas waktu penutupan itu. Diperkirakan, masa pengosongan Mekah dan Madinah itu dari tyanggal 27 Februari sampai 14 Maret. Namun tenggat waktu itu belum pasti, bisa saja diperpanjang sampai wabah corona tidak terdengar lagi.

Para jamaah umroh yang sudah berangkat datri Tanah Airnya tapi harus kembali, pasti yang paling menderita. Mereka merasa terpukul dan merasa sangat sedih, Apa lagi jamaah yang sudah sampai Jedah atau Madinah. Mereka tidak boleh masuk Mekah. Mereka harus menuju bandara dan terbang kembali ke negara asalnya.Pemerintah Arab Saudi mulai tanggal 4 Maret mengeluarkan keputusasn baru lagi. Jangankan jamaah dari seluruh dunia, orang Arab yang tiggak di luarf negeri juga, sementara tidak boleh pulang ke Tanah Arab

Para pedagang baik grositr maupun pengecer, merasa terpukul dengan keputuisan itu. Mereka terpaksan menutup toko dan kiosnya karena tidak akan nada pembeli. Para jemaah, terutama yang datang dari Indonesdia metupakan konsumen paling dinanti. Orang Indonesia mereka nilai paling suka berbelanja, karena itu, para pelayannya diharuskan mampu berbahasa Indonesia bahkan bahasa Sunda. Tidak aneh kalau ada orang Arab tulen menyapa jamaah dengan bahas daerah di Indonesia, ”Ka darieu heula, barangna marurah”

“Ya, terpaksa tutup, saya akan pulang kampong dulu,”kata salah seorang pelayan toko, TKI dari Cirebon. Sama halnya yang dialami para sopir bus dan  taksi. Mereka mengatakan, selama kasus corona itu, mereka tidak akan menghasilkan apa-apa. “Nggak tahu, mau cari makan di mana?” kata sopir bus asal Tegal.

Wabah corona benar-benar menghantui penduduk dunia saat ini padahal menagapa harus panik? Bukankah ketentuan sakit atau mati itu hanya Allah yang Mahapenentu. Corona bukan yang menentukan seseorang mati atau hidup. “Serahkanlah segalanya kepada Mahapencipta. Hanya katrena izin Alloh kita mati atau hidup. Corona tidak akan menyentuh badan kita tanpa izin Alloh,” ujar dai kondang Abdullah Gimnastiar alias AA Gim. (B-001)***