Menghindar bukan Melawan

32

”Kita Bersatu Melawan Corona”.  Kalimat itu merupakan penyemangat bagi semua rakyat, siap berperang melawan virus corona. Ditulis pada baligo, spanduk, poster, atau banner pada media massa. Beranikah manusia di muka bumi ini melawan dahsyatnya serangan virus corona?

Hampir semua negara di dunia terkena serangan corona. Beberapa negara nyaris tak berdaya melawan virus berbentuk buah rambutan itu.Lebih dari satu juta orang terpapar Covid-19. Ratusan ribu yang meninggal dunia menjadi korban keganasan musuh yak tidak kasat mata itu. Harus kita akui,  manusia anak zaman industri 04.1 – 05.1 ini nyaris terpukul mundur melawan Covid-19.

Bagai ksatria, kita pasang badan berhadapan dengan “tentara gaib” yang jumlahnya tidak terkira itu, pasti kalah, Tiba-tiba saja sang ksatria itu terjerembab, badannya panas, nafasnya sesak, mati. Masalahnya para kesatria itu tidak dibekali senjata ampuh. Kita baru mencoba membuat formula sebagai bahan pembuat senjata. Senjatanya belum selesai, pasukan corona sudah menguasai sebagian besar belahan dunia dengan meninggalkan korban sangat banyak.

“Menghidari musuh merupakan salah satu strategi perang.“ Itu kata guru silat atau kelompok-kelompok geriliawan. Strategi itulah mungkin yang digunakan pemerintah semua negara yang terdesak Covid-19. Terbitlah protokol melawan corona yakni down-load dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Isinya semua orang yang berada di zona merah atau teritorial yang diduduki musuh, diam di rumah, tidak bergerombol, tidak saling bertemu dengan orang lain,  harus menggunakan masker.

Itulah kiat paling cocok, sebagai strategi perang melawan corona. Strategi itu dipilih pemerintah karena corona merupakan lawan yang tidak kasat mata. Serangannya tidak dapat dilawan dengan pasang badan. Secara kebahasaan statagi itu lebih tepat disebut “menghindar “daripada “melawan”.

Strategi “menghindar”seperti juga “melawam” harus dilakukan dengan kebersamaan, tekad, disiplin, dan sabar. Katamya PSBB, jalan masih tetap padat, kendaraan berlalu-lalang. Orang tua masih berkerumun di pasar, anak-anak masih bermain-main di jalan atau halaman tanpa masker. Berbonceng-ria bersama kekasih, cipika-cipiki dengan tetangga, dan perilaku bebas lainnya.

Rakyat menganggap , strategi menghindar itu sangat menyengsarakan. Hak asasi manusia sebagai makhluk sosial dilanggar. Orang yang berperilaku seperti itu merupakan sasaran tembak paling empuk bagi corona. Tanpa gejala, banyak yang tiba-tiba mati. Covif-19 akan menguasai negara ini dalam waktu sangat panjang, Jalan ke arah sana, dibuka lebar-lebar olegh kita juga.***