Menguasai Agama Islam, Hafal Al-Qur’an Digambarkan Sebagai Kelompok Radikal Tidak Pantas Diucapkan Oleh Seorang Menteri Agama

10

BISNIS BANDUNG – Dalam rapat pimpinan dan anggota Komisi VIII DPR RI mengkritik Menteri Agama Fachrul Razi  terkait pernyataannya yang kontroversial soal penyusupan radikalisme melalui orang-orang good looking dan hafiz Al-Qur’an. Banyak pihak yang tersinggung oleh pernyataan Fachrul Razi karena dianggap tidak pantas diucapkan oleh seorang menteri agama.

Dalam rapat kerja dengan Menteri Agama di Kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (8/9) yang berlangsung sekitar tiga jam lebih. Ketua Komisi VIII Yandri Susanto mengungkapkan, pernyataan Fachrul  dianggap tak pantas diucapkan oleh seorang menteri agama.

“Banyak sekali ulama yang hubungi kami, pondok pesantren yang mencetak Al-Qur’an termasuk Ponpes kami, termasuk keluarga saya banyak yang hafal Al-Qur’an. Saya tersinggung sekali,” kata Yandri.Yandri mengaku,  belakangan ini banyak mendapatkan laporan dari pengasuh pondok pesantren dan ulama yang memprotes ucapan Fachrul tersebut.

Yandri menilai pernyataan tersebut seolah-olah menggambarkan bahwa orang-orang yang menguasai agama Islam dan hafal Al-Qur’an adalah kelompok radikal. Padahal, para penghafal Al-Qur’an bukan radikal, tapi justru sedang mengamalkan ajaran agama.

“Saya sendiri sarankan anak-anak saya bisa Bahasa Arab dan hafal Al-Qur’an. Kalau pemerintah menuduh radikal, enggak bisa, Pak,” ungkap Yandri.

Sementara Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily juga mengkritik Fachrul Razi. Ace mempertanyakan, apakah Fachrul tak melihat variabel lain seperti faktor media sosial yang sangat masif penetrasinya sehingga radikalisme menjadi berkembang di Indonesia.

“Kalau Bapak bilang ada penyusupan-penyusupan, kenapa enggak lihat variabel lain? Medsos misalnya, penetrasinya bisa melalui itu,” kata Ace.

Anggota Komisi VIII DPR Ali Taher Parasong, bahkan meminta Fachrul berhenti mengeluarkan pernyataan terkait radikalisme yang berpotensi memunculkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat.

Ali sangat sedih, Fachrul yang notabene beragama Islam, justru melontarkan pernyataan tentang penetrasi radikalisme melalui anak good looking dan hafiz Al-Qur’an.

“Sampai saya bertanya, Pak Menteri Agama Islam atau bukan? Saya mohon maaf perasaan suuzan terhadap seseorang tidak boleh sebenarnya, tapi perasaan tak enak,” kata Ali.

Melihat kontroversi itu, Ali bahkan menyindir Fachrul lebih cocok menjabat sebagai menteri pertahanan ketimbang menteri agama.

Menurutnya, Fachrul belum mampu mengawal dan membimbing berjalannya berbagai tugas dan fungsi Kemenag dengan baik selama menjabat sebagai Menteri Agama.

“Soal radikalisme Pak Menag gagal paham mengenai fungsi-fungsi agama dan fungsi pendidikan. Tanpa ingin mengecilkan Pak Menag, Bapak ini cocoknya jadi Menteri Pertahanan Keamanan atau jadi Menko Polhukam ketimbang Menag,” ujar Ali.

Dibandingkan dengan intel Belanda

Fachrul lantas mengklarifikasi pernyataannya tersebut usai dihujani kritik habis-habisan oleh anggota dan pimlinan Komisi VIII.

Ia mengaku,  pernyataan tersebut disampaikan pada acara internal pembekalan aparatur sipil negara di Kementerian PAN RB dengan topik ASN No Radikalisme. Fachrul tak mengetahui bila acara tersebut terbuka untuk publik.

Dalam pembekalannya pada acara tersebut, Fachrul meminta agar pemerintah memperhatikan masalah rekrutmen, pendidikan lembaga lanjutan oleh pemerintah dan saat ibadah ASN di kantor. Karena di hari kerja, para ASN beragama Islam pada umumnya menjalankan ibadah salat dan melaksanakan kegiatan kultum di masjid kantor.

Fachrul menyinggung cara kerja intelijen yang kerap memasukan orang-orang berpenampilan menarik serta memiliki pengetahuan luas dalam melancarkan operasinya.

“Mungkin dalam intelijen internasional menyusupkan orang-orang intelijennya adalah orang-orang good looking, pengetahuan luas ke dalam community tertentu,” tutur Fachrul.

Fachrul lantas membandingkan operasi intelijen tersebut dengan peristiwa penyusupan intelektual Belanda, Christiaan Snouck Hurgronje di Aceh pada zaman penjajahan Belanda dahulu kala.

Hurgronje merupakan orang Belanda yang mampu menaklukkan Aceh berkat keuletan sekaligus kelicikannya dalam memecah-belah masyarakat di Serambi Mekah. Belanda memilih Hurgronje untuk memecah belah masyarakat Aceh. Sebab, Hurgronje dipilih karena memiliki pemahaman Islam yang baik, sehingga bisa mengadu domba masyarakat Aceh.

“Jadi kalau anak-anak good looking, pengetahuan agamanya bagus, itu yang kita butuhkan sebetulnya. Tapi harus kita cek dulu,” kata Fachrul.

Fachrul meminta agar pengurus masjid bisa mengecek dan menelusuri rekam jejak  akun-akun media sosial orang-orang yang kerap dilibatkan dalam mengisi ceramah maupun imam jemaah. Hal itu bertujuan agar orang tersebut tak menyebarkan radikalisme bagi para jemaah di masjid. (B-003) ***