Menilik Bisnis Digital Operator Telekomunikasi Tanah Air

314
Basic RGB

DUNIA digital dengan berbagai layanan dan teknologi yang semakin beragam turut dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan termasuk operator seluler. Hal ini terbilang wajar dilakukan mengingat peralihan prilaku manusia di era digital yang cenderung lebih banyak memanfaatkan transaksi secara digital.

Beberapa operator yang turut berekspansi bisnisnya di dunia digital diantaranya Indosat Ooredoo, XL Axiata dan Tri Indonesia. Ketiganya memiliki platform yang memungkinkan pengguna untuk menemukan sesuatu yang mereka minati.

Indosat Ooredoo memiliki platform e-commerce bertajuk Cipika yang menawarkan beragam produk. Sayangnya, salah satu bisnis digital Indosat Ooredoo itu pada akhirnya ditutup pada Juni 2017.

Keputusan ini dilakukan akibat persaingan cukup ketat yang membuat Indosat Ooredoo harus getol membakar uang demi bisnis digitalnya. Namun lambat laun, kucuran dana jor-joran untuk Cipika dinilai tak efisien. Alhasil dana tersebut dinilai lebih efektif dialokasikan pada core bisnis Indosat Ooredoo yakni layanan telekomunikasi.

“Setelah beberapa kali ganti business model, semua model masih bakar uang. Bakar uang Artinya merusak ebitda Indosat. Walaupun nggak terlalu besar (uang yang dikeluarkan) mengganggu aja. Mending uang balikin ke promosi core business,” terang CEO Indosat Ooredoo, Alxander.

Meski platform e-commerce nya ditutup bukan berarti Indosat Ooredoo akan meninggalkan bisnis digital layaknya Cipika. Sebagai gantinya, perusahaan yang lekat dengan warna kuning itu memilih untuk menjalin kerjasama bersama pemain e-commerce lainnya .

Tak hanya Indosat Ooredoo, langkah serupa juga dilakukan XL Axiata dalam sektor bisnis digital. Perusahaan yang identik dengan warna biru itu memilih hengkang dari bisnis e-commerce.

Sebagaimana diketahui, XL Axiata memiliki saham 50% di Elevenia, setara dengan yang dimiliki SK Planet, perusahaan mitra XL Axiata asal Korea Selatan. Sayangnya, karena dianggap matriks bisnisnya tak sejalan dengan telekomunikasi, XL Axiata memilih melepas sahamnya tersebut.

Belum lama ini, XL Axiata melakukan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (CPSA) sebagai upayanya untuk melepas seluruh kepemilikan saham di Elevenia. Langkah strategis ini menjadikan XL Axiata fokus pada bisnis utamanya dan mengembangkan bisnis layanan data.

Keputusan ini juga dinilai mengurangi dampak yang timbul dari Elevenia dan memungkinkan XL Axiata untuk mengalokasikan modal dari para investor.

Dijelaskan CEO XL Axiata, Dian Siswarini matriks bisnis telekomunikasi dan e-commerce memang berbeda. Sebelum akhirnya melepas saham di Elevenia, Dian sempat menyebutkan bahwa akan lebih baik jika e-commerce tak berada dalam naungan yang sama dengan unit bisnis telekomunikasi.

“Bisnis digital itu kalau kita lihat di seluruh dunia, telco yang berhasil masuk ke bisnis digital sedikit banget. Jadi emang sulit ya. Karena memang bisnis ini matriksnya berbeda. Karena perbedaan bisnis model yang luar biasa itu, menurut saya bisnis digital sebaiknya tidak di dalam perusahaan itu sendiri. Jadi kalau mau di grup, masih memungkinkan bukan di level operasional” terangnya.

Bisnis digital yang dimiliki XL Axiata sendiri tak hanya melalui platform e-commerce Elevenia. Perusahaan juga memiliki bisnis digital lainnya bagi pelanggan yang memungkinkan untuk melakukan transaksi.

Diketahui, bisnis digital XL Axiata secara keseluruhan hanya memberikan sedikit kontribusi bagi revenue perusahaan, yakni sejumlah 5%.

Disaat yang lain bertarung dengan persaingan bisnis e-commerce dan akhirnya memilih mundur, Tri Indonesia baru mencoba peruntungan. Melalui platform bertajuk &Co, Tri memanfaatkan basis penggunanya dan ekosistemnya untuk bisnis digital.

Lain halnya dengan dua rekannya yang ‘membakar’ dana untuk subsidi e-commerce-nya, Tri tidak memberikan subsidi namun memanfaatkan strategi dengan menentukan pasar yang tersegmen serta produk yang telah melalui serangkaian penilaian.

Karena masih dinilai baru, Tri Indonesia masih melakukan evaluasi secara mendalam pada e-commerce-nya tersebut.

“Tim kami masih mengevaluasi secara mendalam. Ini bagus nggak untuk terjun ke bisnis digital terutama yang fisik. Kalau yang nggak (fisik) itu nggak ada isu, itu udah pasti,” terang Danny.

Diakui Danny, persaingan bisnis e-commerce di Indonesia memang berat karena banyaknya pemain bisnis tersebut. Meski begitu, selama bisnis itu didasarkan pada fundalis bisnis yang baik, perusahaan tak perlu melakukan subsidi seperti yang banyak dilakukan e-commerce lainnya.

Bisnis telekomunikasi dan e-commerce sendiri diakui Kristiono, Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) memang berbeda. Bisnis telko mengandalkan laba dari layanan yang disediakan perusahaan kepada pelanggan. Sementara itu, e-commerce menggelontorkan subsidi agar meraup banyak pelanggan, menghasilkan jumlah belanja yang tinggi, serta meningkatkan valuasi perusahaan.

Alhasil keputusan beberapa operator seluler untuk hengkang dari bisnis digital dinilai wajar oleh ketua Mastel tersebut.

“Wajar kalau dilepas karena bisnis model telco dengan digital bisnis sangat berbeda. Membutuhkan attitude dan ukuran kinerja investasi serta valuasi yang beda. Sangat sulit menyatukan dalam portfolio satu entitas usaha,” terang Kristiono. (C-003/lnm)***