Meningkatkan Cinta Rupiah

234
Meningkatkan Cinta Rupiah

   PERINGATAN 75 Tahun Kemerdekaan RI tahun 2020 merupakan peringatan paling sederhana selama Indonesia merdeka. Kalau kita buka album upacara peringatan Hari Kemerdekaa kita akan melihat, dalam situasi sulit sekalipun, rakyat tetap merayakannya dengan amat sangat meriah. Benar, pada tahun 1946 sampai 1948, ketika rakyat masih berada di bawah tekanan pasukan pendudukan Belanda, peringatan tidak terselenggara dengan meriah. Rakyat Indonesia tidak dapat berkumpul di alun-alun, apalagi mengibarkan bendera merah putih. Rakyat hanya dapat berkumpul di rumah atau masjid, berdoa bersama-sama memohon kepada Allah Subhanahu wa Taala agar kemerdekaan yang abadi segera terwujud.

         Namun dari tahun 1949, setiap tanggal 17 Agustus rakyat benar-bernar berpesta. Di setiap alun-alun desa, kecamatan, kewedanan, dan kabupaten, diselenggarakan upacara. Semua rakyat datang dengan membawa dongdang berisi nasi tumpeng, buah-buahan, dan makanan lain. Mereka berarak-arak dengan menampilkan helaran berbagai kesenian rakyat.  Setiap instansi menyelenggarakan peringatan dengan pementasan kesenian, reog, musik, kliningan, dan wayang golek semalam suntuk..

        Tahun ini, peringatan ke-75 Hari Kemerdekaan RI, dilakukan dengan sangat sederhana. Tidak ada upacara bendera, tidak ada arak-arakan, pementasan kesenian. Kita benar-benar berada pada tekanan pandemi Covid-19. Semua kita tutup mulut dalam artki harafiah. Semua orang mengenakan penutup mulut (masker). Pemerintah mengeluarkan edaran sampai ke desa, Semua orang tidak boleh menyelenggarakan peringatan HUT Kemerdekaan dengan kegiatan yang mengundang orang banyak. Mungkin karena kecintaan rakyat terhadap kemerdekaan negerinya, masih ada masyarakat yang menyelenggarakan berbagai kegiatan, meskipun tidak semeriah tahun lalu.

        Selain ditandai dengan kesederhanaan, peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan RI, ditandai dengan penerbitan mata uang baru nominal Rp75.000 dengasn foto proklamator Soekarno-Hatta. Mata uang itu diterbitkan dengan nuansa 75 Tahun Kemerdekaan RI. Nilainya Rp 75.000, dicetak 75 juta lembar, berwarna dominan merah putih berujung warna hijau. Karena jumlahnya terbatas, mata uang itu tidak mungkin dimiliki oleh semua orang Indonesia. Uang itu tidak digunakan sebagai alat tranaksi jual-beli. Orang memilikinya hanya sebagai bagian dari hobi atau kesenangan saja.

        Penerbitan mata uang khusus itu tidak disertai dengan pesan khusus pemerintah. Dulu ketika pemerintah mengeluarkan mata uang rupiah, secara khusus Presiden  Joko Widodo meminta rakyat benar-benar mencintai rupiah.

    ”Menghina rupiah sama saja menghina Indonesia karena rupiah merupakan ciri khas dan identitas Indonesia.” Penggalan kalimat itu merupakan bagian dari pernyataan Presiden RI, Joko Widodo. Presiden menyampaikan hal itu pada peluncuran mata uang rupiah dengan desain baru, Senin 19 Desember 2016 lalu.

    Presiden disertai Menteri Keuangan, Sri Mulyani, Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, dan Gubernur Bank Indonesia, waktu itu Agus Martowardoyo, meluncurkan 11 pecahan uang rupiah dengan desain baru. Uang dengan desain baru itu terdiri atas 7 pecahan uang kertas dan 4 pecahan uang logam. Semuanya menampilkan wajah para pahlawan nasional, tarian tradisional, dan pemandangan alam Indonesia.

     Dalam peluncuran uang pecahan rupiah itu Presiden menekankan benar, pentingnya kepercayaan dan kecintaan rakyat terhadap rupiah. Presiden mengajak setiap insan di Tanah Air terus mencintai rupiah dengan cara-cara nyata. ”Setiap lembar rupiah adalah bukti kemandirian ekonomi Indonesia di tengah ekonomi dunia,” kata Jopkowi. Setiap transaksi keuangan di dalam negeri selalu menggunakan rupiah. Begitu pula simpanan atau  tabunga  harus dalam bentuk rupiah.

Penerbitan mata uang Rp 75.000 tidak disertai kata pengantar Presiden. Itu menandakakan uang baru itu berdedar terbatas sebagai peringatan HUI ke-75 Kemerdekaan RI dengan segala keterbatasannya.

 “Merdeka!” ***