Meningkatkan Daya Saing Angkot

288

DEMO sopir angkitan kota (angkot) terjadi lagi. Selasa (10/10) kemarin angkot semua jurusan berhenti beroperasi. Para pengemudi dan pemiliknya melakukan unjuk rasa.Tuntutan mereka sama seperti demo-demo yang lalu yakni meminta pemerintah melarang transportasi berbasis aplikasi beroperasi. Demo yang terjadi di wilayah Bandung Raya (Kota/Kabupaten Bandung Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat/KBB ) mengakibatkan masyarakat penumpang angkot telantar.

Menurut berita, demo para sopir angkot yang direncanakan tanggal 10 – 13 Oktober, akan diundurkan. Namun pada kenyataannya, mogok sopir angkot itu berjalan seperti yang direncanakan semula. Akibatnya, aparat pemerintah, baik Dinas Perhuibungan, Satpol PP, polisi, dan TNI, tidak maksimal dalam melaklukan tindakan penyelamatan masyarakat penumpang angkot. Hanya beberapa kendaraan patroli dan truk yang mencoba memberi pertolongan dengan mengangkut mereka ke tempat tujuan.

Menurut para pedemo, pemerintah kota dan kabupaten harus segera melakukan tindakan menghapus tranportasi berbasis online. Selama ada angkutan daring itu, pendapatan angkot konvensional terjun bebas. ”Paling untung, rata-rata mereka mendapatkan penumpang 50% dari biasanya,” kata salah seorang pedemo di Cimahi. Sejak ada uber, grab, dan ojeg daring (ojda), transportasi konvensional semakin terdesak. Pendapatan mereka terus melorot karena masyarakat merasa jauh lebih aman dan nyaman menggunakan teransportasi online daripada angkot atau ojeg pangkalan.

”Angkot konvensional itu merupakan mitra pemerintah dalam mengelola transportasi rakyat,” kata pedemo yang tadi. ”Segalanya diatur pemerintah, trayek, tarif, model dan jenis angkot, bahkan cat mobilnya juga ditentukan pemerintah. Pajak yang ditarik bukan hanya pajak kendaraan tetapi juga pajak pendapatan. Sekarang pemerintah seperti berdiam diri ketika angkot didesak transportasi online. Belum lagi bus pariwisata dalam kota, termasuk bus sekolah  yang gratis,  Damri, TBM dengan tarif sangat murah.”

Baca Juga :   Hak Kekayaan Budaya (HKB)