Menyimpan Jenazah Di Peti Batu Dan Tebing Lubang Kubur

124

Tempat penyimpanan jenazah di tebing batu yang sudah dipahat membentuk lubang kubur,  merupakan salah satu kepercayaan yang sejauh ini dipegang teguh secara turun-temurun oleh masyarakat  Tanah Toraja Sulawesi. Kini dalam perjalannya berkembang menjadi sebuah destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin melihat  lubang-lubang di tebing berisi tulang belulang jenazah yang pada bagian depan lubang kubur tersimpan boneka tampilan wajah semasa hidup.

Provinsi Sulawesi, memang  memiliki sejumlah tempat pemakaman leluhur yang unik, salah satu di antaranya di bukit batu Lemo. Dinamakan Lemo karena bentuk bukit ini  menyerupai buah limau. Bukit batu Lemo memiliki 75 lubang kuburan, tiap liang merupakan kuburan keluarga. Dalam bahasa setempat, kuburan ini disebut Liang Paa’. Dari luar, kuburan-kuburan ini hanya terlihat lubangnya saja, ditutupi papan kayu. Ukuran lubang cukup besar, sekitar 3 X 5 meter.

Sementara tingginya mencapai belasan meter dari permukaan tanah. Jenazah dimasukan ke dalam liang  menggunakan tangga atau ditarik. Proses pembuatan liang membutuhkan waktu cukup lama dan sulit karena bukit batu harus dipahat dengan tangan. Jadi tidak heran kalau pembuatan satu lubang bisa menghabiskan biaya jutaan juta rupiah dengan lama pengerjaan enam bulan sampai satu tahun.

Kuburan alam ini dihiasi dengan lambang-lambang sebagai pertanda  prestise, status dan kedudukan para bangsawan di Limo. Syarat untuk membuat tau-tau atau patung tiruan, yakni harus menyembelih kerbau sebanyak 24 ekor. Tau-tau dari orang yang sudah meninggal terbuat dari kayu nangka, matanya dari tulang dan tanduk kerbau.

Bukit kuburan yang ada di Desa Lemo ini merupakan kuburan tertua nomor dua di Toraja, dan kuburan  paling tua berada di Songgi Patalo. Kuburan batu bukit Lemo dibuat pada sekitar abad ke 16, berlokasi sejauh enam kilometer di sebelah utara Kota Makale,  12 kilometer di sebelah selatan Rantepao. Atau berada di sebelah timur jalan raya yang menghubungkan kota Makale dan Rantepao, Ibu Kota Kabupaten Tana Toraja. Obyek wisata ini  dikunjungi wisatawan sejak tahun 1960.

Pada zaman prasejarah, jenazah  tidak disimpan pada tebing kubur batu, tapi disimpan  dalam peti kubur yang terbuat dari batu yang dikenal dengan nama Sarkofagus (peti kubur dari batu) merupakan tempat menyimpan jenazah  pada zaman prasejarah di kebudayaan Megalitik atau Batu Besar. Kubur batu  merupakan salah satu cara penguburan dengan menggunakan wadah (peti) yang terbuat dari batu. Sarkofogus  pertama kali ditemukan di Pulau Bali. Jenazah disimpandi dalamnya dengan posisi terlipat atau jongkok yang dibekali benda bekal kubur, antara lain manik batu dan perhiasan, seperti gelang dan cincin perunggu. Konon budaya Sarkofogus  di Bali dan Bondowoso Jatim, terjadi pada akhir zaman prasejarah Indonesia  sekitar 200 – 300 SM (Sebelum Masehi). Selain ditemukan di Bali, Sarkofogus yang terbuat dari batuan gunung berapi ditemukan di Desa Pekauman Kecamatan Grujugan Kabupaten Bondowoso Jatim, berukuran untuk penutup 196 x 110×50 Cm, bagian wadah jenazah 225 x 118 x 86 Cm.  (B-003/Bbs) ***