Menyoal ‘Sunda Empire’ Kekaisaran Matahari 

156

KEMUNCULAN Sunda Empire nyaris tak membuat publik heboh jika saja kasus Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah, tak viral di lini massa awal Januari 2020 ini. Namun sebenarnya eksistensi Sunda Empire ini lebih dulu muncul, kurang lebih tiga tahun lalu di Bandung, Jawa Barat. Bahkan ‘raja’ Keraton Agung Sejagat pernah berkunjung ke acara Sunda Empire. Jejak Sunda Empire terlihat dari video yang diunggah di medsos dengan flatform YouTube, Twitter dan Facebook.

Jejak pertama mereka muncul pada 8 Maret 2017, ketika mereka mengadakan upacara di Taman Isola di dalam kampus Universitas Pendidikan Indonesia, Jalan Setiabudi, Sukasari, Kota Bandung. Setahun kemudian, 13 Juni 2018, kelompok ini berkumpul dan menggelar upacara di Lapangan Gasibu, persis di depan Gedung Sate, Kota Bandung. Upacara itu untuk memperingati ‘Anniversary World Development Bank (WDB)’. Tanggal 24 Oktober 2019, mereka juga mengadakan rapat akbar di sebuah gedung untuk memperingati hari jadi ‘United Nations’ atau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Semua acara itu selalu dipimpin oleh Kaisar Agung atau Grand Prime Minister (GPH) of the Sunda Empire-Earth Empire, Nasri Banks, yang dipanggil ‘Rama’. Rangga pun selalu hadir, karena dia sebagai Gubernur Jenderal Sunda Empire untuk wilayah Sunda Nusantara. Lalu, Siapa Nasri Banks dan Rangga yang mengklaim sebagai kekaisaran penguasa dunia itu?

Ini banyak orang stres di republik ini. Banyak menciptakan ilusi-ilusi yang sering kali romantisme sejarah, ternyata ada orang yang percaya juga jadi pengikutnya.”

Dari penelusuran berbagai sumber, jejak Nasri sangat minim di dunia maya atau media sosial. Di mesin pencarian, hanya muncul Nasri Banks memiliki akun Facebook. Tapi hanya sekali ia mengunggah foto tentang struktur Sunda Empire (Kekaisaran Matahari). Beda dengan Rangga, yang jejaknya banyak ditemukan di akun YouTube-nya dengan nama Pangeran Rangga. Ia punya akun Twitter dengan nama @RanggaBung (Bung Rangga). Di profilnya ditulis nama Pangeran Ranggajati II atau Dr Syaikh Ki Ageng Ranggasasana Al Mursyid, LLM berasal dari Brebes, Jawa Tengah.

Baca juga: Tanggapi Sunda Empire, Emil Prihatin Banyak Orang Jual Romantisme Sejarah

Di setiap kesempatan acara, Nasri yang bak orator ulung, selalu mengulang-ulang bahwa kekuasaan dunia yang saat ini berada di tangan Vatikan Roma di Itali akan berakhir pada 15 Agustus 2020. Setelah 75 tahun kekuasaan itu akan kembali ke tangan Sunda Empire yang berpusat di Bandung sebagai Korps Diplomatik Dunia. Oleh karena mereka mengklaim semua negara di bumi ini harus menata sistem pemerintahan baru agar tak terpuruk dan selalu mengutang sampai kiamat. “Mereka hanya bisa menggunakan aset-aset di bumi ini asal mereka datang ke Bandung, mendaftarkan diri pada sistem imperium dunia, Kekaisaran Sunda, Kekaisaran Matahari,” dalam salah satu video YouTube yang diunggah Rangga.

Di video lainnya, Rangga menjelaskan, Sunda Empire (Kekaisaran Matahari) sudah ada turun temurun, berganti-ganti dinasti. Ia menyatakan kekaisaran itu bukanlah Sunda, kerajaan Sunda di Jawa Barat yang selama ini dikenal dalam sejarah Indonesia. Sunda Empire memiliki enam wilayah, yaitu Sunda Atlantik yang berpusat di Bandung, Jawa Barat. Lalu, Sunda Nusantara, Sunda Eropa, Sunda Pasifik, Sunda Archipelago dan Sunda Mainland.

Sunda Nusantara sendiri meliputi 54 negara yang tersebar mulai dari benua Australia, Papua Nugini, Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam, Cina, Mongolia, Jepang, Korea bahkan sampai Rusia. Bahkan, sampai PBB (United Nations) sendiri mereka klaim berada di bawah kekaisarannya itu. Nah, setelah 15 Agustus 2020 semua negara di bumi harus mendaftar ulang ke pusat Sunda Empire dan menyelesaikan utang-utangnya ke Bank Dunia.

“Nah, di Indonesia sendiri tentu akan ada proses yang dilakukan untuk mengubah sistem yang baik, siapa pun pemimpinnya nanti kita dukung dan harus kerjasama,” ucap Rangga dalam video YouTube yang diunggah pemilik akun bernama ReTasti pada 17 Januari 2020.

Menariknya lagi, kekaisaran abal-abal ini juga punya dasar negara Pancasila versi Sunda Empire, yaitu God (Ketuhanan yang Maha Esa), Humanity (Kaisar Yang Agung sangat berdaulat merupakan manusia Tuhan untuk memimpin bumi), Nationality (kedaulatan atas bumi, tanah dan air beserta isinya milik Kaisar Yang Agung Kekaisaran Sunda/Matahari), Democracy (semua program yang dilakukan di muka bumi dilakukan oleh tribune, kingdom atau state harus diarahkan untuk kepentingan manusia dan lingkungannya, dan Social Justice (keadilan untuk semuanya, semua aset dimuka bumi milik Kekaisaran Sunda hanya untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia dan lingkungannya).

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dibuat geleng-geleng kepala dengan kemunculan kerajaan abal-abal di wilayahnya. Bahkan dia sudah berkomunikasi dengan Kepala Polda Jawa Barat, Irjen Pol Rudy Sufahardi, setelah video kelompok Sunda Empire viral. Kang Emil, sapaan akrab mantan Walikota Bandung ini pun menyebut kelompok itu sebagai orang-orang stress. “Ini banyak orang stres di republik ini. Banyak menciptakan ilusi-ilusi yang sering kali romantisme sejarah, ternyata ada orang yang percaya juga jadi pengikutnya,” ucapnya.

Kementerian Dalam Negeri juga menyebutkan kelompok Sunda Empire, juga Keraton Agung Sejagat sebagai kelompok orang tak waras dan sakit. Pihak kementerian berharap kepada polisi untuk memeriksa tentang kemungkinan adanya pelanggaran di dalam kerajaan abal-abal itu. “Kalau saya harus cek betul, jangan-jangan orang kurang waras, kurang sehat, orang kurang waras, kok. Jangan orang kurang waras, anda respon habis-habisan,” pinta Plt Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, Bachtiar, di Kantornya di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat, 17 Januari 2020.

Sementara itu, Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupeten Bandung meneggarai Sunda Empire mirip dengan Keraton Agung Sejagat. Kedua kerajaan abal-abal ini diduga kuat terkait penyebaran paham adanya harta karun peninggalan kerajaan kuno dan harta Bung Karno. “Motifnya hampir sama, paham yang disebarkan itu biasanya ada harta Bung Karno atau harta kerajaan Sunda Kuno yang tersimpan di negara atau bank tertentu,” kata Kepala Kebangpol Kabupaten Bandung, Imam Irianto, Jumat, 17 Januari 2020.

Pemkot Bandung memastikan kelompok Sunda Empire bukan dari Bandung. Kelompok mereka ternyata dikabarkan berdomisili di Kabupaten Subang. Tapi beberapa kali memang melakukan kegiatan di wilayah Kota Bandung sejak tahun 2017 dan 2018. Karena itu, pihak Kesbangpol Pemkab Subang tengah mengecek keberadaan mereka. “Kami telusuri organisasi ini tak terdaftar di Kota Bandung, tapi kemungkinan di luar Kota Bandung dan informasi yang kamu dapatkan kemungkinan di daerah Subang. Kita sedang koordinasi dengan Kesbangpol Kabupaten Subang. Kami belum mendapatkan jawaban, karena mereka juga masih mengecek,” kata Kepala Bidang Politik Dalam Negeri dan Organisasi Masyarakat Kesbangpol Kota Bandung, Inci Dermaga di Bandung, Sabtu, 18 Januari 2020.

Badan Intelijen Negara (BIN) sudah lama mendeteksi kelompok-kelompok yang membuat kerajaan abal-abal ini. Hanya saja, dua kasus terakhir ini kembali dimunculkan padahal kasusnya sudah lama (Sunda Empire). Memang selama ini ada keraton-keraton lama yang bergabung dengan Kerajaan Nusantara. “Lain halnya kalau ada unsur pidana di dalamnya, diantaranya sekarang yang dikembangkan masalah penipuan dan lain-lain, itu yang ditelusuri,” kata Kepala BIN Budi Gunawan yang ditemui di Hotel Kempinski, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu, 18 Januari 2020.

Baca juga: Sunda Empire Tidak Terdaftar Di KESBANGPOL Kota Bandung

Sampai saat ini pihak kepolisian dari Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Barat masih mendalami keberadaan komunitas Sunda Empire itu. Sampai sejauh ini, polisi belum bisa mengungkapan secara rinci siapa Nasri Banks, Rangga dan anggotanya dari mana, pendanaan dan sebagainya. “Kita sedang melakukan melakukan pendalaman, lagi mendalami komunitas itu. Kita belum tahu apakah itu ormas atau apa, makanya kita masih pelajari, masih pendalaman dengan melakukan penyelidikan,” kata Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Saptono Erlangga Waskito saat dihubungi, Sabtu, 18 Januari 2020. (C-003/BBS)***