Meski Turun, Investasi di Jabar Tetap Jalan

95
Meski Turun, Investasi d Jabar Tetap Jalan

   REALISASI investasi di  Jawa Barat triwulan II 2020 berasda pada angka Rp 28 triliun. Pada triwulan I unvestasi mencapai jumlah Rp 29,89 triliun. Sebelumnya, investasi di Jabar (triwulan II 2019) mencapau Rp31,37 triliun. Investasi dalam bentuk pembentukan modal tetap bruto (PMTB)  mengalami kontraksi minus 11,075%.  Investasi pembentukan modal pascapandemi Covid-19 merupakan penunjang cukup kuat terhadap pertumbuhan ekonomi Jabar. Saat itu kontribusi PMTB terhadap pertumbuhan ekonomi  cukup tinggi.

    Investasi sebagai pembentuk modal terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN). Pad masa pamdemi ini, PMA yang masuk ke Jabar terus menurun. Pada triwulan II 2020 PMA mencapai Rp19,47 triliun sedangkan PMDN hanya Rp 8,53 triliun. Dalam situasi yang proporsional, PMDN selalu lebih tinggi dibanding PMA. Penurunan total investasi asing itu merupakan akibat resesi ekonomi yang dialami negara pemodal. Seyogianya justru hal itu merupakan peluiang bagi tumbuhnya PMDN. Namun pandemi Covid-19 juga menerpa para pemodal dan pengusaha dalam negeri. Mereka tidak melihat celah atau kesematan yang baik untuk melepas uangnya sebagai modal usaha.

Boikot Produk Perancis Terpuruk Perekonomian

    Para investor dari mancanegara tampaknya masih melihat-lihat (wait and see) perkembangan ekonomi di Indonesia, termasuk situasi politik. Apakah ada kecenderungan menguatnya pertumbuhan ekonomi dan bagaimana jaminan keamanan atau stabilitas nasional. Mereka butuh jaminan  pemerintah, mampukah  pemerintah mengendalikan situasi politik. Kenyamanan berusaha merupakan daya tarik sangat kuat bagi masuknya PMA.

     Selama ini PMA—seperti tercatat pada laporan perekonomian Jabar, mendominasi sektor transportasi dan telekomunikasi (31,19%), listrik dan gas bumi 15,94%, sektor industri otomotif 11,59%.

Masih menurut kaporan ekonomi Jabar triwulan II 2020, PMDN lebih memilih sektor konstruksi (37,45%),  real estat/properti 13,42%, dan sektor transportasi 12,34%.  Baik PMA maupun PMDN lebih memilih sektor transportasi dan telekomunikasi. Pilihan itu sesuai dengan prospek kedua sektor itu dalam perkembangan ekonomi dan sosial masyarakat. Mobilitas penduduk semakin tinggi dan meningkatnya kebutuihan akan komunikasi serba internet.

     Pandemi Covid-19 punya kekuatan sangat besar dalam menekan pertumbuihan ekonomi. Investasi  di Jabar terus menurun namun sesuasi dengan relaksasi PSBB, ekonomi rakyat dan perusahaan berbasis PMA masih berjalan meski tertatih=tatih. Banyak perusahaan yang memilih menutup pabriknya daripada terus meurigi. Akibatnya terjadi PHK dan makin besarnya angka pengangguran.

     Diharapkan pada awal tahun 2021 keadan berubah ke arah yang lebih baik. Perdagangan betrjalan sebagaimana mestinmya, investasi masuk secara proporsional. Belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat lebih meningkat. Langkah pertama Pemda Provinsi Jabar, bekerja keras mempercepat penanganan Covid-19. Corona jinak, PSBB hapus, ekonomi dipastikan meningkat pesat.****