Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat Bentuk Sebuah Ikatan

1062

Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat yang terletak di kawasan Jalan Dipati Ukur Kota Bandung, berdiri di atas tanah seluas ± 72.040 m² dan luas bangunan ± 2.143 m² dengan model bangunan berbentuk bambu runcing yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern.
Monumen diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, R. Nuriana pada tanggal 23 Agustus 1995. Di bagian bawah bangunan monumen terdapat ruangan cukup besar yang berfungsi sebagai Museum Sejarah Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Museum diisi diorama:
1. Diorama Perjuangan Sultan Agung Tirtayasa bersama rakyat menentang kolonial Belanda tahun 1658
2. Diorama partisipasi rakyat dalam pemba­ngunan jalan di Sumedang
3. Diorama perundi­ngan Linggarjati 1946
4. Diorama Bandung Lautan Api 24 Maret 1946
5. Diorama Long Mach Siliwangi Januari 1949
6. Diorama Konfrensi Asia Afrika di Bandung 1955
7. Diorama Operasi Pagar Betis (Operasi Brata Yuda) 1962.
Di samping itu terdapat relief pada bagian din­ding depan Monumen. Relief ini menceritakan sejarah perjuangan rakyat Jawa Barat mulai dari masa kerajaan, masa pergerakan, masa kemerdekaan, dan masa mempertahankan kemerdekaan dalam melawan penjajahan baik Belanda, Inggris, maupun Jepang.

Selain itu Monju dilengkapi pula oleh ruang audiovisual, dan ruang perpustakaan yang akan digunakan sebagai sarana dalam memberikan informasi sejarah perjuangan rakyat Jawa Barat bagi pengunjung.

Monumen yang sejak April 2010 dikelola oleh Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah dan Nilai Tradisional (BPKSNT), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat, menginformasikan peristiwa-peristiwa sejarah di wilayah Jawa Barat. Bentuk monumen tidak tunggal, tetapi plural.

Diwujudkan dalam lima unsur bentuk yang menjadi satu kesatuan harmonis (beungkeutan). Bentuk seperti ini memiliki makna yang berhubungan de­ngan kebudayaan Sunda yang tidak mengenal pusat (sentral), melainkan tersebar di berbagai tempat, memiliki sifat plural, dinamis dan demokratis.

Monumen itu juga pada hakikatnya merupakan karakter perjuangan rakyat Jawa Barat dari masa ke masa, yang mengandung nilai-nilai hakiki budaya dan perjuangan rakyatnya, harus menjadi satu ikatan (hiji beungkeutan), tetapi untuk menjadi satu ikatan memerlukan perjuangan.

Semua diwujudkan dalam desain bangunan yang luwes, plastis, tidak masif, melainkan teranyam. Didesain oleh seorang arsitek dari Bandung, Slamet Wirasonjaya dan perupa Sunaryo. (E-001) ***