Motif Batik Garutan Miliki Ciri Khas Ditekuni Warga Sejak Zaman Kolonial

1806

Dari berbagai literatur,kata batik mempunyai padanan “menulis titik” diambil dari gabungan kata “amba dan titik” berasal dari bahasa Jawa. Dahulu batik hanya ditulis dan dilukis menggunakan daun lontar dengan motif yang dominan kepada binatang dan tumbuhan.

Corak batik mempunyai filosofi dari masing-masing daerah asal, sehingga terdapat motif dan corak yang berbeda.Sejarah batik sudah cukup panjang, selama ini sangat identik dengan wilayah Jawa Tengah, namun ternyata di wilayah Priangan, tradisi membatik tumbuh dan berkembang sejak lama.

Salah satunya daerah Priangan yang memiliki tradisi membatik ialah di Kabupaten Garut. Masa keemasan batik garutan dimulai sejak zaman kolonial hingga pertengahan tahun 1980-an.

Kini lambat laun batik garutan mulai menampakkan jejak kejayaannya kembali dengan makin banyaknya perajin batik di Garut yang mulai memproduksi serta memasarkan produknya ke berbagai daerah.

Motif batik di Indonesia memiliki perbedaan yang mengacu pada filosofi daerah batik berasal. Seperti halnya batik Garut atau lebih dikenal dengan sebutan motif batik garutan yang umumnya memberikan pilihan warna yang dominan cerah dan lembut, cocok digunakan untuk anak –anak dan remaja yang penuh ekpresi dan ceria.

Namun motif tersebut tetap sesuai untuk dipakai usia dewasa dan orang tua. Selain menampilkan warna yang ceria dan lembut, ciri lain dari motif batik garutan adalah pemilihan gambar yang merujuk pada flora dan fauna, dan mengambil bentuk geometrik yang lebih mengarah kepada garis diagonal , seperti bentuk belah ketupat.

Pembuatan motif batik garutan menggunakan teknik dengan cara di­tulis langsung dengan tangan (batik tulis), sehingga wajar jika waktu pengerjaan satu helai kain batik bisa memakan waktu yang lumayan lama.

Harga yang ditawarkan pun cukup tinggi, mengingat proses pengerjaannya harus de­ngan ketelitian yang memerlukan teknik khusus. Selain itu batik juga bisa memberikan nilai estetika yang tinggi. Ada sekitar 80-an motif yang dituangkan dalam batik garutan.

Di antaranya, bulu hayam, lereng calung, lereng jaksa, cupat manggu, merak ngibing, dan batu ngampar. Secara umum, motif yang dipakai dalam batik garutan diambil dari kondisi alam sekitar yang dikelilingi pegunungan. Selain itu, flora dan fauna yang memiliki kaitan erat dengan kehidupan masyarakat melengkapi kekayaan motif batik garutan.

Keunikan batik garutan terdapat pada proses pembuatannya. Motif batik tidak hanya dibuat pada salah satu sisi, tapi bolak-balik. Proses seperti ini yang membedakannya dengan batik Jawa Tengah atau Yogyakarta.

Sementara untuk peralatan, batik garutan menggunakan malam dan canting layaknya batik Jawa Tengah dan Yogyakarta.Karena prosesnya yang cukup rumit, pembuatan batik garutan memerlukan waktu yang cukup panjang. Untuk membuat sehelai kain batik dengan motif sederhana, diperlukan waktu sekitar 1 minggu. Bahkan pembuatan batik garutan memerlukan waktu hingga berbulan-bulan jika motif yang dibuat cukup sulit.

Tahapan dalam membuat batik tulis khas Garut, pertama proses penulisan, yaitu menorehkan cairan malam/lilin mengunakan canting pada kain yang sudah dipola dengan pensil sebelumnya untuk batik tulis.

Kemudian proses pewarnaan, yakni mencelupkan kain yang telah dilukis atau ditulis ke dalam cairan pewarna (alami dan sintesis) . Proses pelorodan untuk menghilangkan lilin secara keseluruhan pada akhir proses pembuatan batik.

Kain yang sudah dibatik direndam terlebih dahulu, kemudian dimasukkan dalam air mendidih yang sudah diberi obat (waterglass atau soda abu). Setelah itu, kain batik dikeringkan dengan cara diangin-angin.

Proses pencucian dengan merendam kain yang sudah dilorodkan mengunakan air dingin. Penjemuran (bisa 1 jam, sehari, atau berhari-hari, tergantung cuaca). Para perajin optimis batik garutan akan mencapai masa kejayaannya kembali setelah sekitar tahun 80-an mengalami kelesuan . (E-001)***