Objektivitas Pernyataan Pengamat Militer  Diragukan Ujang : Isu Digulirkan Lantaran Tidak Dapat Proyek ?

3

BISNIS BANDUNG – Komisi I DPR RI menggelar rapat dengan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto secara tertutup, Rabu  pekan ini. Anggota Komisi I DPR RI, Effendi Simbolon mengatakan, dalam rapat tersebut Prabowo menyampaikan klarifikasinya terkait penunjukan PT Teknologi Militer Indonesia (TMI) dalam proyek rencana pengadaan alutsista senilai Rp 1.760 triliun.

“Kita konfirmasi juga, PT TMI ini apakah ada kepentingan partai tertentu, ada kolega kedekatan, beliau bilang, nggak, ini kebetulan saja mereka pensiunan para pakar. Jadi nggak ada kaitannya,” kata Effendi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (2/6/21).

Selain itu, dikatakan Effendi, Komisi I juga menanyakan peran dan fungsi PT TMI dalam pengadaan alutsista tersebut. Effendi menegaskan Komisi I bukan ingin menuding Prabowo, melainkan mengkonfirmasi langsung terkait informasi yang berkembang.

Siapa Mr M ?

Sementara aktivis Petisi 28, Haris Rusly Moti, mempersoalkan objektivitas pernyataan pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie tentang mafia alat utama sistem senjata atau Alutsista. Karena, Connie kerap ikut terlibat dalam pengadaan senjata.

Melalui akun Twitter @motizenchannel, Moti berpendapat, hal lumrah bila publik menyoroti pemerintahan, termasuk belanja alutsista. Namun, menjadi permasalahan jika Connie yang juga bermain dalam pengadaan alutsista ikut berkomentar.

“Sobat, sah-sah saja publik mengawasi pemerintahan, termasuk mengawasi belanja Alutsista. Masalahnya jika Connie Rahakundini yang juga pemain Alutsista komentari mafia Alutsista,” kicaunya, Sabtu (29/5/2021) .

Dampaknya, lanjut mantan aktivis 98 itu, masyarakat meragukan kebenaran pernyataan Connie. Alasannya, publik akan berpendapat, isu ini digulirkan lantaran dia tidak mendapatkan proyek Alutsista.

“Publik nilai negatif, kredibilitas datanya diragukan. Dianggap karena enggak dapat bagian, lalu bikin ramai,” cuitnya.

Sedangkan pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin, sebelumnya juga mengkritisi pernyataan Connie tentang mafia Alutsista. Baginya, komentar tersebut sulit dianggap objektif dan berdasarkan fakta lantaran dia telah menjadi kader Partai NasDem.

Baca Juga :   Alas Kaki Menjadi Tren Fashion dan Prestise Penggunanya

“Soal posisi pengamat, ya, pengamat saja, enggak usah berpartai gitu, ya. Kalau berpartai, pengamatnya, ya.. ditinggalkan sehingga perspektifnya, agar pendapatnya, pandangan-pandangannya objektif,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (27/5/2021) .

Apabila kondisinya seperti sekarang, menjadi pengamat dan politikus pada saat bersamaan, maka orang cenderung melihat pernyataan Connie sarat pesanan. Akhirnya ketahuan, terbuka, kan, sesungguhnya ada pesanan tertentu,” jelas Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) ini.

Menurut Ujang, Connie seharusnya membuka masalah tersebut melalui saluran-saluran partainya jika memang bertujuan membongkar praktik lancung dalam pengadaan Alutsista. Melalui perwakilan NasDem di Komisi I DPR, misalnya.

“Angkat saja kasusnya di partainya, ya, kan? Dorong saja di DPR untuk buka kasus itu. Berani tidak? Nah, itu lebih (menunjukkan sikap) seorang kesatria,” tuturnya seraya menambahkan ,persoalannya, jangan-jangan partainya sendiri dapat (proyek Alutsista).

Connie sebelumnya membongkar tentang dugaan adanya mafia alutsista di Kementerian Pertahanan (Kemhan) oleh Mr. M.  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, belakangan meminta Connie melapor ataupun terbuka soal sosok Mr. M. (B-003)***