Obyek Wisata Penuh Sesak Covid-19 Diduga Meningkat 

93
Malah Minta Diperketat

SEMUA obyek wisata di Jabar diserbu pengunjung. Pangandaran, Ciwidey, Sukabumi, dan lain-lain sampai hari ketiga Lebaran, penuh sesak. Bagitu juga di Jakarta hari Sabtu dan Minggu arus wisatawan domestik r yang masuk Pantai Ancol tak terbendung. Akibatnya, Pemprof DKI dan Jabar memutuskan menutup daerah wisata tersebut meskipun mendapat reaksi sangat keras dari para pengunjung yang akan masuk. Para petugas harus berjibaku memutar balik kendaraan yang menuju daerah wisata.

Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, menginstruksikan penutupan obyek wisata sepanjang  Pantai Pangandaran dan daerah Ciwidey. Sebelumnya pengunjung benar-benar membludak.   Arus lalu lintas  menuju Pangandaran dan Ciwidey macet total. Panutupan itu terpaksa dilakukan untuk menguarai pengunjung agar tidak berdesak-desakan. Membanjirnya pengunjung dikhawatirkan pandemi Covid-19 akan meningkat drastis.

Arus wisata domestik yang sangat besar itu sebagai dampak pelarangan mudik Lebaran tahun ini. Masyarakat memanfaatkan masa mudik itu dengan berwisata karena obyek wisata selama masa libur Lebaran dibuka. Pertanyaannya, mengapa mudik dilarang, berkunjung ke daerah wisata dibolehkan. Pemerintah pusat tidak secara khusus menetapkan penutupan daerah wisata. Hal itu diserahkan sepenuhnya kepada pemerinrah daerah.

Pemerintah daerah tidak mengira, arus wisata pada musim Lebaran ini akan sederas itu. Pemda memprediksi, karena pandemi, arus wisata tidak akan terlalu besar. Kalaupun ada tidak akan lebih dari 50% kapasitas obyek wisata. Di samping itu, daerah wisata dibuka dengan harapan perekonomian di daerah wisata tidak terganggu pandemi.

Benar, ekonomi di daerah wisata meningkat tajam. Hal itu berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi regional bahkan nasional. Di tengah kekhawatiran meningkatnya pandemi Covid-19 akibat arus mudik dan arus wisata, ekonomi beberapa daerah menunjukkan peningkatan signifikan. Menko Airlangga Haertarto di Jakarta kemarin,  mengingatkan pemerintah dan masyarakat mewaspadai dan mengantisipasi potensi lonjakan kasus aktif, setelah pelaksaan libur panjang Idulfitri.

Sepeerti dikutif Sindo, Hartarto menjelaskan, selama masa pelarangan mudik, kasus aktif nasional mengalami penurunan sampai 48,6% dari puncak kasus 5 Februari 2021. Pada minggu terakhir sampai 16 Mei 2021, jumlah kasus aktif berhasil turun menjadi 98.800 kasus. Namun di beberapa provinsi, khususnya di Sumatera terjadi peningkatan bahkan ditemukan terjadinya kasus varian baru yakni B.117 asal Inggris dan B.1.617 dari India.

Kekhawatiran Menko Hartarto itu sebenarnya merupakan kekhawatiran Pemda, baik pemprof maupun kota/kabupaten. Arus mudik sudah terjadi sejak Minggu, 16 Mei. Para pemudik ilegal itu  berusaha keras kembali ke Jakarta dan hampir semuanya melewati dan beristirahat  di daera Jabar.

Kalau kita bandingkan peningkatan ekonomi dari sektor kepariwisataan meskipun besar, tidak setara dengan peningkatan pandemi sebagai akibat arus balik dan arus wisata. Kita cuma dapat berharap, Lebaran tahun depan, arus mudik dan arus wisata kembali normal bahkan menmingkat signifikan. ***