Pagar Betis Diabadikan Jadi Nama Jalan Di Bandung Selatan

28

BISNIS BANDUNG – Pagar Betis populer pada era tahun 60 – an  saat masyarakat dilibatkan oleh aparat keamanan untuk  pengepungan “gorombolan”   (penganggu keamanan) yang bersembunyi di pegunungan. Nama Pagar Betis diabadikan menjadi sebuah nama jalan , yakni   Jalan Pagar Betis Letnan Jenderal Ibrahim Adjie, atau biasa dikenal dengan nama Jalan Tembus Ibun Kamojang  Bandung selatan. Menurut Bupati Dadang Naser , jalan ini bisa sepanjang Majalaya hingga Garut.

”Alasannya, perjuangan pagar betis itu dalam sejarahnya melibatkan hampir seluruh Jawa Barat. Di mana Pangdam III/Siliwangi saat itu, Pak Letjen Ibrahim Adjie, menyusun strategi pagar betis untuk menahan para separatis (pemberontak), yang sering mengganggu keamanan dan kenyamanan masyarakat ,” kisah Bupati Dadang Naser di sela peresmian Jalan Pagar Betis Letnan Jenderal Ibrahim Adjie yang digelar di Desa Laksana Kecamatan Ibun, belum lama ini . Nama Ibrahim Adjie selaku pelaku sejarah di daerah itu, lanjut bupati,  diabadikan sebagai nama jalan sepanjang 2,4 kilometer tersebut. Dan kisah di baliknya, akan dikenang hingga generasi di masa mendatang.

”Dengan adanya tambahan nilai sejarah, jalur alternatif yang melintasi jembatan kuning Kamojang Hill Bridge, menjadi salah satu destinasi wisata baru di wilayah Bandung selatan ini, akan semakin dikenal masyarakat. Di mana pembangunan jalan dan jembatan ini, kami resmikan tahun 2016 dengan sumber dana dari APBD Kabupaten Bandung,” tutur bupati didampingi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Bandung Agus Nuria.

Ruas jalan tersebut, tambahnya, juga telah mendapat sertifikat laik fungsi jalan di Kabupaten Bandung dari Kementerian PU. ”Selain itu, tahun 2017 ,  juga mendapatkan sertifikat sebagai jalan hijau Indonesia dengan peringkat Bintang 3 dari Kementerian PU,” tambah Dadang Naser.

Baca Juga :   Gerhana Bulan Total Tak Terlihat Akibat Cuaca

Selain meresmikan jalan, orang nomor satu di Kabupaten Bandung itu, juga meninjau area yang menjadi rencana pembangunan kolam retensi Situ Pangkalan di Kampung Pangkalan dengan luas area 8,9 hektar (ha), akan dibangun kolam tampung seluas 4,5 hs dan fasilitas umum untuk objek wisata seluas 4,3 ha.

”Tampungan air di Situ Pangkalan, dapat dimanfaatkan untuk keperluan air baku masyarakat setempat. Selain untuk kebutuhan air PT. Pertamina Geothermal Energy. Ini akan menjadi pusat pariwisata, di mana akan dikembangkan menjadi kawasan wisata agro, pendidikan dan wisata budaya. Tentu kita semua berharap, ini bisa direalisasikan untuk membangkitkan kembali situ purba yang telah hilang,” tambah Dadang Naser. (B-003) ***