Pahlawan Kekinian

93

      DALAM pengertian keikinian, hero dan pahlawan itu berbeda. Coba saja tonton beberapa film buatan luar negeri, seperti Batman, Spider Man, kemudian Sastria Baja Hitam, Sipa, dan sebagainya. Semuanya disebut film heroik. Gambaran hero itu merupakan tokoh yang berjuang melawan kejahatan dan selalu menjadi pemenang. Mereka degan kekuatan supranatural atau peralatan berteknologi super-canggih, dapat menumpas segala kejatahan di muka bumi. Tidak ada hero yangt mati terbunuh.

     Dalam kamus, hero di Indonesia diterjemahkan sebagai pahlawan. Namun pahlawan pada pengertiannya berbeda dengan hero. Pahlawan di Indonesia merupakan gelar terhadap orang yang mengorbankan harta dan nyawanya melawan penjajah. Artinya, gelar pahlawan diterapkan kepada orang yang secara berani melawan penjajah bukan dilihat dari menang atau kalahnya. Jadi  kepahlawanan dinilai dari tekad dan keberanian menegakkan dan membela bangsa serta negara. Pengertian ”negara” pada konteks ini tidak harus berupa nation. Bisa saja sebatas lingkungan istana, lingkungan kampung, atau daerah.

        Bukan merupakan gugatan atas gelar pahlawan bangsa tetapi sekadar menjawab pertanyaan anak-anak milenal. “Mengapa Bapak Anu disebut pahlawan padahal ia kalah melawan penjajah?”  Pertanyan itu timbul karena pemikiran mereka dilatarbelakangi dengan heroisme, para hero yang menjadi idolanya. Jawabannya, herosime berbeda dengan kepahlawanan. Herosime bermuatan keperkasaan meskipun tidak logis, sedangkan kepahlawan bermuatan nilai ketulusan.

        Karena itu, setiap peringatan Hari Pahlawan, tanggal 10 November, selalu ada upacara pemberian gelar pahlawan. Dari semua daerah dikumpulkan nama orang yang  gugur dalam perang melawan penjajah, baik Belanda maupun Jepang. Pada kelompok itu disertakan pula orang-orang yang benar-benar berjasa bagi bansga dan negara dalam berbagai bidang. Ada pahlawan revolusi, pahlawan pendidikan, pahlawan emansipasi wanita, pahlawanm lingkungan hidup, dan sebagainya.

Baca Juga :   Gerakan Beli Cabai Membangun Industri Hilir Berbasis Cabai

         Berangkat dari pengertian pahlawan itulah, wajar apabila kita (rakyat) mengusulkan pemberian gelar pahlawan bagi para tenaga medis. Ratusan dokter dan paramedis yang meninggal dunia terpapar Covid-19 karena mereja bertugas menangani penderita wabah itu.  Mereka secara berani berdasarkan tugas mulianya bersentuhan dengan pasien Covid-19 meskipun pada akhirnya ia terpapar juga dan atas kehendak Tuihan Yang Mahaperkasa, ia meninggal dunia

        Wajar, mereka mendapat penghargaan istimewa atas jiwa kepahlawanannya. Mereka bukan hero pembasmi kejahatan atau pemenag dalam peperangan melawan penjajah. Mereka orang-orang berperikemanusiaan. Mereka mengabdi kepada tugasnya menyelamatkan nyawa orang lain, meski harus mengorbankan jiwa dan raganya. Menurut asgama (Islam) jangankan orang yang meninggal akibat serangan wabah, digelari suhada, mati sahid.Tidak berlebihan bila para petugas yang gugur dalam perjuangan merlawan wabah, diberi gelar pahlawan.

        “Hidup pahlawan kesehatan Indonesia!” ***