Paket Sepuluh Rupiah

270
Paket Sepuluh Rupiah

    Pemerintah memberi subsidi bagi pengguna Telkomsel. Untuk kepentingan belajar-mengajar, Telkomsel hanya memungut sepuluh rupiah penggunaan kuota selama satu bulan. Subsidi itu tentu sangat melegakan masyarakat, khususnya para orangtua murid. Selama ini para orangtua murid mengeluh, besarnya pengeluaran bagi penyelenggaraan belajar daring di rumah.  Bersekolah di rumah itu pada satu sisi, sangat memberatkan para orangtua siswa. Mereka harus mengeluarkan biaya pengisian pulsa/kuota Rp 35.000 perhari.

   Di beberapa daerah, banyak orangtua yang mengajukan protes, bahkan mendesak pemerintah, segera membuka kembali sekolah. BB pernah memuat tulisan/artikel tentang keberatan para orangtua itu. Ujungnya mengusulkan, pemerintah menggratiskan kuota selama ketentuan belajar di rumah masih berlaku. Pemerintah punya akses terhadap BUMN Telkom yang membuka pelayanan internet.

   Artikel BB secara khusus mengusulkan,  pemerintah, dalam hal ini Telkom sebagai BUMN, menggratiskan penggunaan kuota. Usul itu tidak berlebihan karena Telkom milik pemerintah. Pendidikan di SD dan SMP pada dasarnya cuma-cuma. Sekolahnya gratis, seyogianya para siswa tidak harus mengeluarkan biaya untuk kuota. Bagi sebagian besar orangtua murid Rp 35.000 itu sangat memberatkan. Setiap bulan mereka harus mengeluarkan biaya  Rp 875.000. Sedangkan bantuan dari pemerintah, baik berupa BLT maupun bantuan lain, hanya Rp 600.000 Itupun diterima dua bulan sekali. Sedangkan kuota harus diisi tiap bulan. Sehingga bantuan pemerintah itu tidak cukup untuk beli kuota. Dari mana biaya makan dan bayar listrik, cicilan barang, iuran sampah, keamanan, air, dan sebagainya.

   Benar, namanya juga bantuan. Tidak mungkin dapat menutup berbagai kebutuhan pokok masyarakat. Bila bantuan itu dibelikan kuota, cukupkah biaya makan sebulan penuh? Selain itu banyak orangtua siswa yang tidak mampu, membiarkan anak-anaknya tidak belajar secara daring. Menurut mereka, belajar secara daring itu diajangkan hanya bagi masyarakat mampu. Orang berkekurangan tidak mampu menjangkau biaya internetnya.

   Pemberian subsidi yang pasti akan membantu masyarakat kelas bawah. Itu pasti dapat mendorong para siswa kurang mampu lebih bersemangat. Mereka punya kemampuan “memberi makan”gagetnya. Hanya Rp 10,- tiap bulan. Ïtu mah sama saja dengan gratis,”kata Ibu Gandi yang anaknya belajar di SMP pavorit.

   Belajar di rumah secara daring pada dasarnya sangat menyenangkan para siswa. Mereka dapat belajar sambil bermain-main, santai. Mereka tidak usah membawa bekal makanan atau uang jajan. Ilmu dapat, mereka juga makin memahami teknologi komunuikasi.  Belajar dengan tatap muka harus dilakukan meskipun ada bantuan biaya kuota. Tatap muka dapat mempererat tali silaturahmi, baik antarsiswa maupun antara guru dan murid. Namun pengawasan harus dilakukan lebih ketat. Semua anak didik dan para guru wajib mentaati protokol kesehatan. Siswa,  guru, dan pegawai TU wajib menggunakan masker, menjaga jarak, dan cuci tangan. Dengan disiplin, anak-anak didik tidak akan menjadi klaster baru penularan Covid-19.

     Telkomsel akan menederita kerugian cukup besar dengan kebijakan subsidi kuota itu. Namun kebaikan terhadap masyarakat, jauh lebih besar pahalanya. Mencari untung itu harus, beramal soleh itu wajib. ***