PARA AKADEMISI TERJUN KE KAKI LIMA

29

DUA orang sarjana teknik metalurgi dan seorang jebolan S2 Teknik Bahan dan Material ITB, bersepakat membuka angkringan nasi kucing. Mereka berjualan di atas gerobak kayu di tepi jalan di seputar salah sdatu kompleks perumahan di Bandung Selatan. Angkringan itu buka pk 17 hingga larut malam antara pk 01 – 02.  Pada musim pandemi Covid 19, ketiga ”insinyur” itu memilih profesi pedagang kaki lima (PKL).

Di samping gerobak angkringan itu, ada lagi tiga orang mahasiswa smester akhir dari UPI, dan dua universitas swasta di Bandung, sedang membangun lapak baru. Ketiganya, dipandu seorang mahasuswa juga smester akhir Hubungan Internasional di sebuah perguraun tinggi bergengsi di Bandung. Mereka bersepakat, berdagang makanan ala Korea, dim sum.

Masih di kompleks perumahan itu, di bagian dalam ada dua kafe yang juga dikelola oleh akademisi. Kafe yang pertama bertempat di jalan utama kompleks itu dibimbing seorang doktor jebolan ITB bidang teknik air bersama istrinya, seorang dokter gigi senior. Sedangkan kafe yang lain yang juga di jalan utama, ada kafe dikelola oleh seorang dosen senior. Bukan kafe mewah tetapi sederhana.

Mengapa para akademisi itu kemudian berlari ke usaha kuliner berskala kecil? Mereka tidak punya alasan baku. Jawaban mereka hanya satu, “Mengapa tidak?”Namun yang jelas, usaha kuliner, di mana pun merupakan bisdang usaha paling bertahan dibanding usaha yang lain.

Mereka membuat usaha kecil seperti itu tidak mau disebut pelarian. TetapI justru sebagai “perintis”. Mereka berharap, para pemuda yang berpendidikan rendah atau tinggi mau membuka usaha dengan modal kecil tetapi punya semangat tinggi.  Mereka tidak ingin melihat ada sarjana menganggur. Bidang usaha, apapun bentuknya akan menjadi katup membesarnya jumlah pengangguran.

Fenomena seperti ini bukan hal baru. Sejak sosialisasi pertumbuhan jiwa wiraswasra (entrepreneurship) ditumbuhkan di Indonesia awal Reformasi, cukup banyak anak muda bergerak dalam bidang usaha. Kreativitas tumbuh baik dalam bidang kuliner, fesyen, ataupun kerajinan. Banyak anak muda yang sukses, apalagi setelah pasar online tumbih di masyarakat.  Sekarang justru jiwa wiraswasta itu tumbuh du kalangan akademisi. Lulusan perguruan tinggi, mahasiswa, dan doden, mencoba berniaga.

Mereka memulai usahanya pada skala sangat kecil . Mereka yakin, usaha kecil itu bila dikelola oleh orang-orang berilmu, akan berkembang menjadi usaha kecil, menengah, kemudian besar.  Jiwa entrepreneurnya dipacu sejak awal. Mereka tidak membedakan status pelanggan atau pembeli. Semuanya dilayani dengan keramahan seorang pelayan. Tapi jangan salah, siapapun, meskipun saudara kandung, ayah atau bunda, makan di warungnya, tetap harus membayar. Makan setusuk sate usus yang harganya seribu rupiah, tetap harus bayar tunai.

“Bisnis mah tetep bisnis atuh,”kata salah seorang  di antara ”tukang insinyur” itu. Bahwa nanti di rumah, uang itu akan dikembalikan atau tidak, bukan masalah.***