Pegawai KPK Yang Berprestasai Dan Berintegritas Disingkirkan Giri  : Pihak Yang Berniat Jahat  Agar Leluasa Menggarong APBN

2

BISNIS BANDUNG – Sebanyak 75 pegawai KPK yang dinyatakan tidak memenuhi syarat wawasan kebangsaan umumnya adalah figur berprestasi dan berintegritas. Di antara mereka ada para Ketua Satgas Penyidikan dan Ketua Satgas Penyelidikan yang tengah menangani kasus-kasus besar. Menurut  Direktur Sosialisasi & Kampanye Antikorupsi KPK Giri Suprapdiono,   dirinya  curiga tes wawasan kebangsaan tak lebih dari rekayasa jahat. Penyingkiran sengaja dilakukan agar pihak-pihak yang punya niat jahat untuk kepentingan pemilu dan pilpres 2024 dapat leluasa menggarong APBN. Sebab menurut alumnus Institute to Social Studies-Erasmus University of Rotterdam itu, dunia bisnis saat ini sedang ambruk karena pandemi.

“Mereka ini boleh dibilang lokomotifnya, simbol pemberantasan korupsi. Mereka semua sekelas Novel (Baswedan), banyak melakukan OTT dan tengah menangani kasus-kasus besar,” kata Direktur Sosialisasi & Kampanye Antikorupsi KPK Giri Suprapdiono  , Kamis (27/5/2021).

Kiprah mereka dan timnya mungkin dianggap membahayakan karena sekalipun UU KPK sudah direvisi tetap dapat melakukan operasi tangkap tangan para pejabat lewat operasi tangkap tangan (OTT).

Mereka antara lain ,  Rizka Anung Nata, Andre Harun, Rasamala, Herry Muryanto, Ambarita Damanik, Harun Al Rasyid sebagai sosok yang disegani karena prestasi dan integritasnya. Mengingat rekam jejak mereka, independensi dan integritasnya, Giri menegaskan , pihaknya  curiga tes wawasan kebangsaan tak lebih dari rekayasa jahat. Penyingkiran sengaja dilakukan agar pihak-pihak yang punya niat jahat untuk kepentingan pemilu dan pilpres 2024 dapat leluasa menggarong APBN. Sebab menurut alumnus Institute to Social Studies-Erasmus University of Rotterdam itu, dunia bisnis saat ini sedang ambruk karena pandemi.

“Sumber utamanya adalah APBN yang selama ini diawasi BPK dan KPK gitu kan. Jadi saya takut sekali kalau 75 orang ini dipretelin kemudian mereka dengan leluasa menggarong APBN ini,” ujar Giri yang mantan karyawan sebuah badan di bawah naungan PBB.

Baca Juga :   Dadang Naser: Tidak Akan Menutup Pasar Rapid Test Belum Tentu Positif Covid 19

Dengan rekam jejak mumpuni dan integritas yang teruji, Giri tak percaya bila 51 dari 75 pegawai itu kemudian dimasukan kategori merah dan tak bisa dibina lagi. Sebagai pengajar wawasan kebangsaan di banyak lembaga negara, menilai seharusnya mereka semua diberi nila kelulusan cum laude. Juga sangat layak diberi gelar pahlawan, bukan malah disingkirkan.

“Apakah menangkapi koruptor itu tidak punya wawasan kebangsaan? Apakah mengembalikan kerugian negara ratusan miliar bahkan triliunan itu tidak dianggap sebagai jasa,” ucap mantan Direktur Gratifikasi KPK   itu.

Pada bagian lain, Giri Suprapdiono juga mengungkapkan sejumlah keanehan lain terkait proses uji wawasan kebangsaan.  (B-003) ***