Pelepas Uang, Mengapa Dilarang ?

3

PELEPAS uang atau rentenir tidak pernah hilang dari kehidupan masayarakat kecil. Bahkan para rentenir, pengijon, dan tengkulak, merupkan ”sahabat”penyelamat bagi sebagian  rakyat. Rakyat kecl, baik buruh tani, kuli ari, pedagang kecil, bahkan pegawai negeri berpenghasilan kecil, sangat akrab dengan para rentenir itu.

Para pelepelas uang itu dianggap sebagai dewa penolong. Ketika mereka butuh uang, lebih dari jumlah pendapatannya, mereka lari kepada pararentenir, pengijon, atau tengkulak. Tanpa agunan, tanpa akte pinjam meminjam, tanpa survey, begitu mereka menyatakan ingin pinjam uang, langsung dipenuhi. Berapa pun. Syaratnya hanya KTP. Para pegawai, hanya harus rela menyerahkan buku penerimaan gaji atau SK, baik pegawai aktif maupun pensiun.

Ketika musim penerimaan gaji para rentenir itu sudah sejak pagi berada din tempat-tempat penerimaan gaji atau uang peniun.  Satu persatu buku atau SK penerimaan gaji diserahkan kepada pemiliknya. Setelah uang diterima, pemiliknya tidak berani membukanya, semuanya diserahkan kepada rentenir. Setelah dipotong pembayaran cicilan, sisanya diserahkan kepada pemiliknya. Buku atau SK-nya dibawa kembali oleh rentenir.

Para pedagang kecil di pasar, kaki lima, warung kecil, sopir angkot, penarik becak, yang punya utang, setiap tanggal jatuh tempo selalu didatangi langsung ke tempat berjualannya. Sopir angkot dicegat di jalur trayeknya. Mereka tidak mau tahu apakah  pengutang itu sudah dapat uang atau belum.  Jatuh tempo hari itu seoran harus masuk. Bola pengutang tidak mampu bayar utang, trak ada basa-basi, apa saja yang diperkirakan bisa dijual, rentenis akan mengangkutnya. Kursi, kulkas, tempat tidur, gerobak dagangan, dan apa saja, tak berampun.

Apabila yang punya utang kelihatan punya kekuatan fisik atau teman banyak, para rentenmir akan mendatangkan debt colecktor. Biasanya para penagih itu merupakan preman, mantan atlet, berbadan kekar, berwajah garang. Mereka berani menggebrak, menghardik, bahkan melakukan kekerasan lebih dari itu. Para pengutang tidak berdaya. Mereka membeiarkan penagih utang  menguras kekayaannya yang memang sangat terbatas.

Pemerintah dalam hak ini,Otorityas Jasa Keuangan (OJK) melakukan berbagai langkah mencegah makin meluasnya belitan gurita pelepas uang. Cukup banyak rakyat kecil menjadi korban para pelepas uang itu. Deyogianya OJK mampu mengumpulkan semua pelepas uang. Sebelum system perkreditan konvensional kita belum  benar-benar merakyat, pelepas uang masih akan sulit dibatasi. Kebanyakan rakyat belum paham, pelepas uangi tu bersifat ilegal, bahkan dalam ajaran agama (Islam), sejak 15 abad lalu, riba atau pinjaman berbunga itu terlarang atau haram.***