Pelihara Bunga, Burung, dan Batu Cincin

471
Pelihara Bunga, Burung, dan Batu Cincin

    ANDA tahu ada bunga atau tanaman hias daun, yang harganya lebih dari 100 juta rupiah?  Sejak dulu sampai sekarang orang masih terus memburu tanaman itu. Banyak sekali penggemar tanaman hias dari luar negeri yang mencari tanaman itu meskipun harganya selangit. Rekor itu masih dipegang oleh anggrek hitam dari Papua.  Ketika tanaman hias berharga sangat fluktuatif, anggrek papua tetap berada di puncak tanaman termahal.

    Harga dan kepopuleran tanaman hias selalu berubah-ubah dan jatuh bangun. Tanaman anthurium bernama gelombang cinta, pada tahun 90-an pernah berada di puncak kejayaannya. Tanaman berdaun tebal dan bergelombang itu pernah dibanderol Rp 9 – 12 juta dua atau tiga daun. Para pencinta tanaman hias, merasa jatuh gengsi kalau ia tidak memiliki GC pada koleksinya. Namun kepopuleran GC tidak lama. Tiba-tiba saja harga GC jatuh. Para penggemarnya membiarkan tanaman amat mahal itu, terabaikan karena memang tidak berharga lagi. Baru pada masa pandemi ini, GC mulai dilirik orang lagi. Meskipun harganya tidak melonjak, banyak orang yang menjadikan kembali GC sebagai bagian koleksinya.

    Sekrang para penggemar tanaman hias, baik yang sudah lama maupun para pemula, sedang menggandrungi tanaman hias daun yang lain. Orang sedang berlomba mengoleksi monstera, anturiun, dan aglonema. Sekarang para pecinta tanaman hias sedang gandrung-gandrungnya menikmati keindahan daun aglonema (srirejeki).  Lebih dari 20 jenis aglonema yang dikoleksi dan dijual-belikan di Indonesia. Tanaman hias bunga, selain anggrek, bougenvile sedang naik daun. Banyak petani kreatif tanaman hias, membuat bonsai dan mengawinkan bougenvil atau kembang keretas itu.

     Orang, bukan saja di Indonesia, sedang atau mulai terpikat lagi dengan tanaman hias. Halaman rumah, sepeti pada tahun-tahun 90-an, dipenuhi lagi berbagai jenis tanaman hias. Banyak ibu rumah tangga yang lama sekali beristirahat dari kegiatan tanam-menanam bunga, kini mulai lagi. Mereka berburu tanaman hias, baik langsung maupun daring. Pasar daring, menyediakan berbagai tanaman hias dari yang termurah hingga yang harganya fantastis. Toko-toko pertanian yang menjual media tanam, pupuk organik dan anorganik, banyak didatangai pembeli. Begitu pula para penjual tanaman hias di pinggir jalan, tampak sangat bergairah.

Baca Juga :   Gerakan Beli Cabai Membangun Industri Hilir Berbasis Cabai

    Meskipun harganya tidak sefantastis anggrek papua, bonsai, atau antrurium, aglonema benar-benar sedang ”in”. Pasar aglonema tengah berada di puncak namun entah sampai kapan

demam aglo itu akan berakhir. Masalahnya penanaman, pembiakan, dan pemeliharaan srirejeki itu jauh lebih mudah dibanding tanaman lain. Daripada harus membeli tanaman induk, orang lebih suka menanam anakan atau stek batang. Lebih mudah dan praktis.

    Pertanyaannya, mengapa tanaman hias menjadi tren lagi saat ini? Kemungkinan besar akibat terjadinya pandemi. Penyebaran Covid-19 yang berjalan tahun ini, berdampak pada berbagai segi kehidupan. Sektor kesehatan, ekonomi, dan ketenagakerjaan menjadi “korban” utama pandermi ini. Ribuan ternaga kerja yang terpaksa harus terkena PHK, penguranagn jam kerja yang konsekuensinya berupa penurunan upah, terkendalanya perkembangan pasar, dan sebagainya. Salah satu dampak positifnya, orang menggunakan waktu luangnya dengan bercocok tanam, memeilihara burung, dan menggosok batu akik.

     Banyak sekali orang yang terkena PHK, penguranan jam kerja, dan ketentuan tinggal di rumah, berpaling ke kegiatan hiobi lamanya. Ibu rumah yangga, kembali berkebun, menggeluti tanaman hias. Selain sebagai koleksi,  tanaman dapat diperjual-belikan. Banyak ibu rumah tangga yang disponsori para petani muda,  membuka usaha jual beli tanaman hias di rumahnya. Daeri sekadar hobi dan jual beli amatiran, kini banyak yang mulai menjadi pelaku usaha profesional bidang tanaman.

      Sedangkan kaum bapa, banyak pula yang kembali menggeluti hobi memelihara burung. Pasar burung, seperti tahun 80-an banyak dikunjungi pehobi burung. Burung oceh lokal yang dului tidak pernah dilirik, kini diburu orang.  Burung ketilang, kacamata, ciblek, murai, dan lebih dari 30 jenuis burung ocehan lainnya klembali meramikan rumah dengan kicauannya.Sekarang di Indonesuia sudah lama tidak ada lagi burung impor seperti poksay, wanbee, dan lain-lain. Burung yuang sekarang tengah digandrungi para pehobinya ialah kenari dan  love bird. Namun burung murai dan cucakrawa masih menjadi raja burung ocehan.

Baca Juga :   Kpu Jabar Buka Pendaftaran Cagub-Cawagub

     Tampaknya sekarang orang mulai lagi membunuh waktu nganggurnya dengan menggosok batu cincin. Batu cincin yang pernah sangat populer trahun 2015, dan terjun bebas hingga tidak laku dijual, kini mulai dilirik orang lagi. Kaum bapak yang tidak bekerja, selalin memelihara burung, ada juga yang mencoba jual beli batu cincin. Sampai harin ini, batu cincin masih belum sepopuler tahun 2010 – 2015 lalu. Harganya masih di bawah standar, kecuali batu mulia.

    Aglonerma, janda bolong, kenari, dan pirus menjadi kosakata yang paling banyak dilisankan orang.  Corona merajalela, hobi tetap berjalan. ***