Peluang Usaha makin Terbuka, Koi Cianjur Kalahkan Koi Jepang

773

Sekarang lahan usaha itu semakin terbuka dengan dinobatkannya koi lokal Cianjur menjadi juara dunia. Mengapa tidak? Jabar menjadi pengekspor ikan hias terbesar di dunia, mengalahkan Jepang dan China. Potensinya ada, tinggal ada komitmen pemerintah, antara lain menerjunkan tenaga ahli dari perguruan tinggi untuk mengedukasi rakyat, khususnya para petani, petambak, dan pembuat pakan.

Benar, konsumen ikan di Indonesia masih jauh dari ukuran ideal. Namun bukan bearti orang Indonesia, khususnya orang Jabar tidak suka ikan. Secara budaya, orang Sunda itu lebih menyukai ikan air tawar darpada daging. Terlepas dari kemampuan atau daya beli masyarakat, orang Sunda di mana pun selalu menyertakan  ikan dalam menu makanan sehari-harinya. Mereka sangat gemar memancing ikan di sungai  atau rawa, hasilnya untuk dimakan bersama keluarga. Sekarang secara kuantitatif konsumsi ikan makin menurun. Tampaknya harus ada penelitian, mengapa hal itu terjadi. Mungkin akibat jumlah ikan di sungai, kolam, sawah atau danau, dan rawa., semakin langka. Pencemaran air akibat limbah, baik limbah industri maupun limbah domestik, termasuk limbah pertanian, memusnahkan semua jenis ikan. Sungai yang sedianya merupakan pundi-pundi ikan liar, sekarang tidak ada lagi ikan hidup di sungai, airnya sudah berubah menjadi genangan beracun. Rakyat yang biasanya sangat suka makan ikan, berganti dengan makanan instan yang bisa jadi tidak sehat dan menyehatkan.

Komitmen pemerintah menjernihkan sungai dan mendorong masyarakat mengonsumsi ikan,  merupakan momentum sangat tepat membangkitkan perikanan di Jawa Barat. Terpilihnya koi lokal Cianjur menjadi juara dunia juga merupakan saat sangat tepat mendorong para pemijah Jawa Barat mengembangkan benih ikan hias.

Jangan merasa rendah bila kelak Jabar menjadi penghasil ikan utama di Indonesia dan pengekspor ikan hias utama di dunia. ***