Pemkot Bandung Membeli Tanah RTH Dari Calo Dengan Harga Berlipat

124

BISNIS BANDUNG – Mantan Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Kota Bandung Herry Nurhayat, dan mantan anggota DPRD Kota Bandung, Tomtom Dabbul Qomar ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka  korupsi pengadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di  Kota Bandung tahun 2012.

Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri menyebut kedua tersangka ditahan KPK , Senin (27/1/20) ditempatkan di dua rumah tahanan berbeda.  Herry ditahan di Rutan KPK cabang K-4 Gedung Merah Putih KPK. Sedangkan Tomtom ditahan di Rutan Gedung KPK cabang C-1 KPK lama.

“Tersangka Herry Nurhayat ditahan di Rutan Klas 1 Jakarta Timur cabang KPK Gedung K4 . Sementara Tomtom Dabbul Qomar ditahan di Rutan KPK C1,” kata Ali di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, menjelaskan tempat penahanan kedua tersangka , Senin (27/1/2020).

Dijelaskan Ali , kasus tersebut berawal pada tahun 2011, saat Wali Kota Bandung waktu itu, Dada Rosada menetapkan lokasi pengadaan tanah untuk RTH Kota Bandung yang merupakan usulan kebutuhan anggaran pengadaan tanah RTH untuk tahun 2012 sebesar Rp15 miliar untuk 10.000 meter persegi.

Setelah rapat pembahasan dengan Badan Anggaran DPRD Kota Bandung, diduga terdapat anggota DPRD meminta penambahan anggaran dengan alasan adanya penambahan lokasi untuk Pengadaan Ruang Terbuka Hijau. Besar penambahan anggarannya dari yang semula Rp15 miliar menjadi Rp57,21 miliar untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD Murni) tahun 2012.

Dibeli melalui calo

Penambahan anggaran diduga dilakukan lantaran lokasi lahan yang akan dibebaskan merupakan lokasi yang sudah disiapkan dan terlebih dahulu dibeli dari warga sebagai pemilik tanah. Upaya ini diduga dilakukan supaya beberapa pihak memperoleh keuntungan.

Sekitar bulan September 2012, diajukan kembali penambangan anggaran dari Rp 57 miliar menjadi Rp 123, 93 miliar. Total anggaran yang telah direalisasikan adalah Rp 115,22 miliar terletak di tujuh kecamatan  terdiri dari 210 bidang tanah.

Dalam proses pengadaan tanah ini, Pemerintah Kota Bandung tidak membeli langsung dari pemilik tanah, diduga melalui jasa Kadar Slamet dan Dadang Suganda sebagai makelar.

Dadang menjadi makelar lantaran memiliki kedekatan dengan Sekda Bandung saat itu, Edi Siswadi yang kemudian memerintahkan Herry Nurhayat untuk membantu Dadang dalam proses pengadaan tanah tersebut. Dadang membeli tanah dari pemilik tanah atau ahli waris dengan harga yang lebih murah ketimbang NJOP.

Setelah tanah tersedia, Pemerintah Kota Bandung membayarkan Rp43,65 miliar pada Dadang Suganda yang hanya memberikan Rp13,5 miliar pada pemilik tanah.

Dari Rp 30 miliar keuntungan yang diperoleh Dadang,  sekitar Rp 10 miliar diberikan kepada Edi Siswadi. (B-003) ***