Pencemar Lingkungan Mulai Ditindak

187

PEMDA Kabupaten Bandung mulai melakukan penegakan hukum terhadap pencemar lingkungan. Terdapat berpuluh titik pembuangan limbah pabrik yang langsung ke sungai secara bypass tanpa izin. Eksekusi yang dilakukan minggu kemarin berupa penyegelan alat pembuangan limbah illegal dan penyegalan alat produksi pabrik. Ada dua perusahaan yang dipidana, satu perusahaan digugat secara perdata.

Tim gabungan dari Dinas Lingkungan Hidup, Satpol PP, kepolisian, dan pemerintahan kecamatan, mendatangi semua pabrik atau inustri di Majalaya dan Dayeuhkolot.

Tahun 2018, antara Januari – Maret, tim menutup 30 saluran pembuangan limbah pabrik di samping perusahaan yang disidangkan, baik secara pidana maupun perdata.

Tim gabungan menemukan berbagai cara industri membuang limbah ke sungai. Ada proses pembuangan air limbah melalui parit di depan pabrik.

Biasanya industri itu menyalurkan air limbah ketika turun hujan. Air limbah yang mengalir pada parit menuju sungai itu, biasanya meluber ke jalan raya.

Di samping itu ada pula cara membuang air limbah secara bypass. Pabruk itu menanam pipa di bawah permukaan. Saluran itu tidak tampak, ujung saluran itu berada di bawah permukaan air sungai.

Tindakan lain yang dilakukan tim ialah penyitaan alat produksi berupa perangkat pencelupan di beberapa industri di Majalaya dan Dayeuhkolot.

’Sasaran dilakukan terhadap pelaku usaha yang berpotensi menimbulkan pencemaran dan perusakan lingkungan hidup,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung, Asep Kusumah, seperti dimuat PR 26/3.

Menurut Asep, tim gabungan melakukan penelusuran ke pabrik mulai dari Majalaya sampai ke kawasan Dayeuhkolot. Tim itu menyegel 10 mesin celup kain dan benang berskala sedang dan besar.

Tindakan pemerintah, khususnya Kabupaten Bandung, sudah dilaksanakan sejak tahun 2012. Sampai tahun 2018 ada enam perusahaan yang dipidana dan berpuluh-puluh yang diberi sanksi administratif dan teguran tertulis.

Industri yang terkena sanksi itu ada 22 perusahaan yang pada akhirnya mau membuat instalasi pengolahan air limbah (IPAL) baru.

Masyarakat sungguh mengapresiasi tindakan tegas pemerintah melalui tim  gabungan itu.

Target penyelamatan Sungai Citarum tampaknya akan segera tercapai. Ciatrum Bestari, Citarum Harum, Citarum Waterhed Management and Biodiversity Conservation (CWMBC), dan sebagainya, diharapkan tidak hanya berupa penelitian, wacana, dan sejumlah keluhan.

Warga yang berada di sepanjang DAS Citarum sudah terlalu lelah mendengar berbagai wacana itu. Mereka yang harus hidup berbulan-builan di pengungsian, menderita berbagai penyakit akibat paparan limbah, bahkan rumah dan harta bendanya habis terseret banjir, ingin melihat tindakan nyata pemerintah.

Mereka sudah sejak tahun 1996 (selepas banjir besar melanda Baleendah) menanti tindakan tegas pemerintah terhadap pembuang sampah dan pencemar sungai.

Memang benar, persoalan Citarum tidak terlalu sederhana. Tindakan penutupan industri pencemar, penyegelan alat produksi, dan trindakan keras lain, dapat berdampak luas.

Pembangunan industri, terutama yang dimodali kaum investor mancanegara, peningkatan industri, pedagangan, dan ekspor akan terganggu. Ketenagakerjaan merupakan masalah paling berat. Pengangguran akan semakin meningkat, kesejahteraan buruh dan rakyat banyak juga akan terdampak.

Namun, penyelamatan lingkungan hidup tetap penting. Kita berniat mewariskan lingkungan yang bersih, asri, dan bermanfaat bagi anak cucu kita. Artinya industri terus maju, lingkungan hidup tetap terpelihara.Sejak awal mereka harus sudah paham aturan.

Ajak pula mereka, investor dan patra pekerja, menjadi bagian tim penyelamat Citarum.  Pemerintah harus punya posisi tawar yang handal. Silakan berinvestasi, silakan mendirikan perusahaan di mana saja mereka suka tetapi, sepeti motto obral, ”Syarat dan peraturan tetap berlaku”. ***