Pengelola Wisata Patuhi Protokol Kesehatan

7
Pengelola Wisata Patuhi Protokol Kesehatan

BISNIS BANDUNG—Menyikapi  pemberlakuan Adaptasi Kebiasaan Baru  (AKB), Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Herman Muchtar tampak biasa-biasa saja, karena diakuinya mau tidak mau,  harus meninggalkan era tidak normal ke era normal.

“Ya, ini kenyataan dampak dari Covid, ekonomi sangat berat apa lagi kalau berlarut-larut ekonomi akan hancur,” tuturnya kepada Bisnis Bandung, Selasa (16/6/2020).

Herman mengutarakan, di masa AKB, pengusaha yang bergerak di sektor kepariwisataan, perhotelan dan kuliner akan menyesuaikan dengan protokol Kesehatan yang  berlaku.

Untuk mendongkrak angka kunjungan  wisatawan ada beragam program yang akan digulirkan, setidaknya ada 24 aksi, hal tersebut tertuang dalam “West Java New Normal Great Sale.”

Sedangkan  Anggota Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia  (PHRI)  Kabupaten Bandung Barat, Dian Dermawan, S.AP mengungkapkan, kebijakan membuka kembali sektor pariwisata sangat ditunggu-tunggu oleh pelaku pariwisata di segala sektor, karena selama 3 bulan lebih vakum tanpa kegiatan.

“Pada dasarnya kita mengikuti arahan pemerintah dengan pemberlakuan AKB di sektor pariwisata, tetapi tentu saja pemberlakuan AKB tidak terlalu membebani cost perusahaan yang sudah jelas sangat minim dan bahkan minus setelah penutupan selama penutupan.”

Dian Dermawan yang juga menjabat sebagai General Manager Hotel Augusta Lembang ini mengutarakan, untuk persyaratan pasti, belum menerima, tetapi ada kebijakan tamu yang berkunjung ke tempat wisata dibatasi hanya 30% dari daya tampung lokasi wisata, dan untuk akomodasi 50% dari jumlah kamar yang tersedia dan diberlakukan physical distancing.

Bila dilihat secara ekonomi, persyaratan tersebut agak berat karena kita menginginkan tamu yang banyak. Tiap lokasi wisata maupun hotel sudah pasti menyiapkan program untuk menarik minat wisatawan, kemungkinan pemberian diskon menginap.

“Edaran belum ada, tetapi merujuk pada akhir pemberlakuan PSBB, ada beberapa destinasi wisata yang akan buka pada tanggal 13 Juni 2020,dan perhotelan sudah persiapan untuk buka” katanya.

Guna melindungi pengunjung maupun karyawan pihak pengusaha harus menerapkan protokol kesehatan terkait Covid 19, di antaranya penggunaan masker, pengukur suhu tubuh, disinfektan, handsanitizer dan lain lain.

 “Harapan kita kembali bergairah, tetapi kemungkinan bertahap, karena selama ini dampak dari ditutupnya/larangan beroperasi selama wabah covid 19, dampak ekonomi yang paling sangat terasa, sehingga hotel banyak yang tutup, karyawan dirumahkan. Data secara tertulis tidak ada, tetapi secara fakta dilapangan, semua destinasi wisata dan perhotelan di KBB tutup, sesuai dengan keputusan Bupati yang sudah dikeluarkan berkenaan dengan PSBB yang diberlakukan”, pungkasnya kepada BB. (E-018)***