Pengembangan Vaksin RI Butuh Dana Rp140 Triliun

23
Pengembangan Vaksin RI Butuh Dana Rp140 Triliun

BISNIS BANDUNG—Pertumbuhan ekonomi Indonesia  saat ini menurut data BPS terakhir  pada  5 November 2020  mengalami penurunan sebesar  3,49% dibandingkan Triwulan III pada tahun 2019.  

“Jika dibandingkan dengan Triwulan II-2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik. Kemudian pertumbuhan ekonomi  meningkat sebesar 5.05% pada Triwulan III dibandingkan dengan Triwulan II,” tutur  pakar perdagangan  Internasional  Unpad Bandung , Yayan Satyakti kepada Bisnis Bandung, Senin (9/11/2020).

Merujuk kepada Coronavirus Global Data, Vietnam dan Tiongkok, katanya  merupakan negara yang mampu mengoptimalkan penanganan ekonomi dan pandemic lebih baik dibandingkan dengan negara lainnya di dunia.

Pertumbuhan ekonomi yang negatif  dan dengan tingkat kematian yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan negara lain, Indonesia disejajarkan dengan negara-negara “welfare state” seperti Finlandia, Denmark, Jepang dan Korea Selatan. Sedangkan Jerman, Selandia Baru, Irlandia, Belanda dan Kanada merupakan negara dengan tingkat kematian yang tinggi dan penurunan ekonomi lebih rendah dari Indonesia yaitu -10%.

Sedangkan tingkat kematian akibat Covid-19 di Indonesia pada tanggal 6 November 2020 sebanyak 14.540 orang dengan jumlah positif sebesar 433.836 orang. Sampai saat ini antara ekonomi versus pandemik  seolah-olah memiliki dua mata pedang.

Ketika ekonomi meningkat tanpa protokol kesehatan sudah dipastikan akan meningkatkan penyebaran pandemic  diberbagai sektor baik itu industri, pariwisata, transportasi maupun sektor lainnya.

“Kebijakan protokol kesehatan yang ketat dengan physical distancing dan menggunakan masker relatif efektif dalam menahan infection rate dan menjaga kapasitas pelayanan kesehatan dengan tingkat kesembuhan sebesar 84%, dan tingkat fatality rate sebesar 3.35% masih di  atas dari tingkat kematian global sebesar 2.8%,” ungkap Yayan Satyakti.

Akademisi Unpad ini mengemukakan, secara empiris pemulihan ekonomi yang paling efektif yaitu dengan melakukan vaksinasi agar “herd immunity” dapat dicapai secara cepat. Pandemik dapat ditekan dari dua sisi yaitu penurunan orang sakit (infection rate reduction) dan mengurangi penggunaan fasilitas kesehatan (reducing health utilization).

Menurut Yayan Satyakti,  yang menarik dari data global tersebut, Indonesia adalah salah satu negara yang sedang mengembangkan vaksin dan memiliki portofolio vaksin selain negara besar lainnya seperti Inggris yang memiliki 6 portofolio vaksin dengan jumlah dosis perkapita terbesar.

Disusul oleh Amerika Serikat sebanyak 7 portofolio vaksin, Kanada sebanyak 4 vaksin portofolio. Jepang sebanyak 4 portofolio vaksin, Uni Eropa memiliki vaksin portofolio sebanyak 6 portofolio. Selanjutnya Australia 2, India 2, Indonesia 1, Brazil 3, Swis 1 dan Tiongkok 1. Potensi penggunaan vaksin ini akan dimulai pada akhir Oktober dan di awal November – Desember dengan pengujian pertama yaitu Moderna yang dibuat oleh AstraZeneca dengan harga dikisaran antara US$35-US$40. Pengembangan vaksin ini membutuhkan total investasi untuk pengembangan teknologi platform virus sebesar US$1 – US$10 miliar atau Rp 140,9 triliun.

Beberapa waktu yang lalu PT. Bio Farma memperoleh Penyertaan Modal Negara sebesar 2 Trilyun untuk pengembangan platform teknologi virus serta peningkatan kapasitas kesehatan untuk penanganan Covid-19.

Sampai saat ini, jika melihat pada referensi artikel ilmiah PT. Bio Farma merupakan perusahaan yang berkembang dengan teknologi vaksin yang diperhitungan di dunia. Dengan kapasitas tersebut, tampaknya pemerintah akan membangun sistem kesehatan yang lebih komprehensif dalam mengurangi keterbatasan penyediaan teknologi yang relatif mahal dari luar negeri. Pengembangan teknologi virus ini diperkirakan akan menghemat  biaya vaksin impor sebanyak 30-45%.  (E-018)***