Pengolah Limbah Industri Di Kab.Bandung Belum Sesuai Syarat Baku Mutu

4

BISNIS BANDUNG – Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (Puslitbang SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat  menyerahkan hibah aset dan lahan IPAL Cisirung kepada Pemerintah Kabupaten Bandung.  Menindaklanjuti itu, Pemkab Bandung yang menerima hibah dari Puslitbang SDA awal tahun 2020  akan bekerjasama dengan PT Citra Bangun Selaras (CBS) dan PT Adhi Karya untuk membangun IPAL terpadu di tiga titik  wilayah Kecamatan Dayeuhkolot, Majalaya dan Rancaekek.

Hal tersebut diungkapkan Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Ekbang) Kabupaten Bandung H. Marlan di sela-sela kegiatan Demonstrasi Pengolahan Air Limbah Industri dengan Teknologi Elektro Koagulasi di Cisirung Kecamatan Dayeuhkolot, Jum’at pekan lalu.

“Ini kita lakukan sebagai upaya untuk meminimalisir persoalan limbah industri yang selama ini memperberat beban pencemaran Sungai Citarum. Semoga upaya ini bisa memberikan dampak terhadap industri tekstil yang ada di Kabupaten Bandung,” ungkap Marlan.

Menurut Marlan, masalah lingkungan menjadi sebuah isu untuk meningkatkan daya saing industri, terutama industri tekstil Kabupaten Bandung. Meski persentasi perusahaan yang memiliki IPAL cukup besar, tapi hasilnya masih belum sesuai dengan baku mutu yang dipersyaratkan. “Perlu digarisbawahi, industri tekstil kalau sudah menyangkut permasalahan lingkungan, pasti daya saingnya akan menurun tajam,” ujar Marlan.

Sejak Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 15 Tahun 2018 Tentang Citarum Harum diberlakukan, lanjut Marlan, pemerintah daerah bersama seluruh stakeholder memiliki tugas untuk mendukung suksesnya program tersebut.

“Citarum Harum bukan hanya kewajiban pemerintah, tapi ini juga kewajiban semua pihak. Termasuk di dalamnya para pengusaha,” tegas Marlan.

Sementara itu Direktur Utama (Dirut) PT CBS Aditya Yudistira menambahkan, pihaknya memilih opsi teknologi elektro koagulasi, karena alasan efektivitas dan efisiensi teknologi ini dalam mengolah lombah.

“Target kami adalah, bagaimana IPAL terpadu ini bisa cepat terealisasi di Kabupaten Bandung. Kami berharap berfungsinya IPAL ini akan menjadi solusi bagi para pelaku industri, karena mereka nanti bisa berbagi beban biaya, mengingat untuk membangun IPAL cukup mahal. Selain itu juga mereka bisa berbagi beban risiko, terutama dalam menanggulangi pencemaran lingkungan,” ucap Aditya Yudistira. (B-003) ***