Pengusaha China Panik Dengan Keunggulan Baja  Indonesia Ada Tuduhan Dumping Terhadap Stainless Steel  Indonesia

282

BISNIS BANDUNG – Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, ekspor besi baja dari Indonesia ke China   meningkat , nilainya mencapai US$ 7 miliar. Walau ekspor baja itu hampir sama dengan impor baja dari China ke Indonesia.Pemerintah China tengah melakukan pemeriksaan terkait ekspor baja alias stainless steel dari Indonesia. Ada tuduhan dumping terhadap baja Indonesia.

“Di China ini ada investigasi tuduhan dumping dari produksi stainless steel kita ke China. Ekspor besi baja kita ke China ini lebih dari US$ 7 miliar di tahun 2020, angka yang hampir sama seperti impor besi baja China ke Indonesia,” ungkap Lutfi dalam forum Raker Kemendag bersama Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Kamis (4/3/21).

Dijelaskan hal ini  sesuatu yang cukup menggembirakan. Dengan besarnya ekspor baja ke China artinya Indonesia mulai bisa menjadi negara penjual barang-barang industri bukan cuma barang mentah dan setengah jadi.

“Ini berarti menunjukkan kita naik value chain-nya kita transformasi dari negara penjual barang mentah dan setengah jadi, menjadi penjual barang industri dan berteknologi tinggi,” ungkap Lutfi.

Dikemukakan Lutfi , baja dari Indonesia bisa jadi lebih murah karena ongkos produksinya lebih murah. Bahan baku baja berupa nikel dan mineral lainnya bisa ditemukan dengan mudah di Indonesia, pabrik pengolahan di sini pun sudah memiliki teknologi yang mumpuni.

“Mungkin karena kita dapat teknologi baru, nikelnya juga murah karena di sini langsung dapat dari asalnya. Ini menyebabkan cara produksi kita efisien dan bersaing tajam dengan China,” ujar Lutfi.

Dari situ lah lanjut Lutfi , kemungkinan para pengusaha China mulai panik dengan keunggulan baja Indonesia dan akhirnya melakukan investigasi dumping.

“Maka ini sebabkan kegalauan di China dan mengadakan investigasi produk stainless steel kita. Tapi pak Jokowi sudah bicarakan ini di tingkat tertinggi dan mereka mau dengarkan, oleh sebab itu ini jadi acuan bahwa barang kita ini barang yang produktif,” kata Lutfi.

Baca Juga :   Pansus Angket Travel Umrah Ditarget Sebelum Reses

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS)  China masih mendominasi di neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2021. Dominasi China, menurut Kepala BPS Suhariyanto terlihat dari pangsa pasar ekspor Indonesia  sebesar 21,16% dari total ekspor US$ 15,30 miliar tertuju ke negeri Tirai Bambu.

“Pangsa ekspor kita tidak berubah. Pertama masih Tiongkok porsinya 21,16%. Komoditas utamanya bahan bakar mineral, besi dan baja, dan lemak dan minyak hewan nabati,” kata Suhariyanto , belum lama ini

Pangsa pasar kedua diduduki oleh Amerika Serikat (AS) dengan porsi sebesar 11,63%, lalu Jepang sebesar 8,66%. Selanjutnya ada India  6,26%, dan Malaysia  5,17%.

Dari sisi impor,  China masih menguasai pangsa pasarnya sebesdar 35,18% atau setara US$ 4,15 miliar dari total impor yang sebesar US$ 13,34 miliar.

“Sedangkan pangsa pasar impor kita tidak berubah. Pertama dari Tiongkok, Jepang, Korsel, Singapura dan Amerika Serikat,” ujarnya.

Berdasarkan data otoritas statistik nasional, porsi impor Indonesia dari Jepang sebesar 7,35%, Korea Selatan sebesar 5,96%, Singapura sebesar 5,96%, dan Amerika Serikat sebesar 4,93%. Sedangkan untuk ASEAN sebesar 18,00% dan Uni Eropa 6,40%. (B-003) ***