Penyebutan Jakarta Amburadul Oleh Megawati Arif : Subyektip Dan Tendensius

295

BISNIS BANDUNG – Analis Politik Exposit Strategic, Arif Susanto menganggap kritik Megawati yang menyebut Jakarta amburadul, merupakan kritik yang subjektif.

Kritikan tersebut, menurut  Arif, dilontarkan karena ada kepentingan partai yang tidak diakomodasi oleh eksekutif dalam hal ini Anies selaku gubernur.

“Penilaiannya Megawati sebenarnya penilaian politis. Kita paham bahwa politik itu soal kepentingan, maka tentu saja penilaian Megawati itu subjektif,” ungkap Arif.

Mengenai gelagat Megawati yang mengkritik langsung kepemimpinan seseorang, dikatakan Arif, bahwa hal tersebut merupakan gaya politiknya. Langsung mengkritik tanpa tedeng aling-aling dengan menggunakan diksi amburadul.

“Sejak lama kalau Bu Mega, cara berkomunikasinya seperti ini. Dengan kalimat simpel,” ujar  Arif.

Sedangkan pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin menilai pernyataan Megawati yang menyebut Jakarta amburadul terlalu subjektif. Terlebih, Jakarta baru-baru ini Jakarta meraih penghargaan internasional di bidang transportasi, Sustainable Transport Award (STA) 2021.

“Kalau amburadul menurut hemat saya terlalu tendensius,” kata Ujang kepada CNNIndonesia.com yang dikutip Bisnis Bandung.com, Kamis (12/11/20).

Walau Ujang , memaklumi Jakarta masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diberesi oleh Anies maupun wakilnya, Ahmad Riza Patria, seperti penanganan banjir. Namun penyematan kata amburadul oleh Megaweti, menurut Ujang  berlebihan.

“Saya melihatnya Ibu Megawati itu kurang objektif dalam menilai,” tandasnya.

Senada dengan Arif, Ujang memandang kritikan yang disampaikan Mega tak lepas dari terganggunya kepentingan PDIP di ibu kota.

“Bisa saja dalam konteks pembangunan Jakarta  karena  PDIP dalam tanda petik tidak diakomodasi dengan baik oleh Anies. Bisa saja proyek pembangunan diberikan kepada partai lain,” ungkapnya.

“Itu juga,  saya pernah dapat bocoran dari anggota DPRD PDIP . Akhirnya semua proyek diberikan kepada partai lain. Kira-kira begitu,” ujar Ujang menambahkan.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tidak merespons tudingan Megawati. Baru Wakil Gubernur Ahmad Riza Patria yang angkat suara. Politikus partai Gerindra itu menyebut kritikan Mega sebagai obat untuk membangun Jakarta lebih baik.

“Ya, itu kami menghormati menghargai siapa pun memberikan komentar atas kota Jakarta, kami anggap semua masukan kritik sebagai obat bagi kami,” kata Riza di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (10/11). (B-003) ***