Perajin Anyaman Bambu Bertahan sebagai Warisan

14
Perajin Anyaman Bambu Bertahan sebagai Warisan

BISNIS BANDUNG– Meski  zaman modern sekarang  sudah  berubah dengan  peralatan serba modern,  namun masih ada  masyarakat  menggunakan peralatan tradisional dalam aktivitasnya kesehariannya.

Di kampung anyaman bambu, umpamanya  yang  berlokasi di Dusun Pangaroan, Desa Cipanas, Kecamatan Tanjungkerta, Sumeedang  tetap bertahan  sejak lama dan masih eksis sampai sekarang.

Uniknya setiap rumah di Dusun Pangaroan ini sebagian besar warganya memproduksi kerajinan anyaman bambu, sebab dulunya dusun ini terkenal dengan pengrajin anyaman bambu yang sudah di wariskan dari para orangtuanya terdahulu.

Dari sini juga para perajin bambu bisa menyeimbangkan hidup dari hasil kerajinan bambu yang dibuatnya.Sedikitnya ada 50 perajin anyaman bambu yang saat ini masih bertahan.

Kepala Dusun Pangaroan, Ihun mengatakan,kerajinan bambu ini  sudah ada sejak zaman dahulu, dan sekarang dilanjutkan oleh anak dan cucunya sebagai warisan leluhur jadi merupakan tradisi turun temurun.

“Saya juga tidak tahu persis tahun berapa para orangtua kita dulu mulai membuat peralatan dari anyaman bambu,namun yang pasti sudah turun temurun dari orang tua juga, saya dan warga yang lain hanya ingin meneruskan saja,” kata Ihun saat ditemui di rumahnya, Senin (31/8/2020).

Lanjut Ihun, dirinya tidak tahu secara pasti kapan kerajinan ini mulai ada, yang pasti kerajinan bambu ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu.

“Untuk tahunnya tidak bisa di prediksi cuman kita sebagai penerus ingin menggali potensi-potensi yang ada di lingkungan Desa Pangaroan terutama di bidang anyaman,” ujarnya.

Untuk itu, agar warisan leluhur ini tidak hilang dimakan zaman, dirinya bersama warga lainnya sepakat akan terus mengembangkan potensi yang ada dengan terus memproduksi anyaman bambu terutama alat rumah tangga.

“Yang ada dilingkungan sini (Desa Pangaroan) yang diproduksi yaitu nyiru, cecempeh, dingkul, boboko kemudian hihid atau kipas. Kebanyakannya alat rumah tangga,” ucap Ihun.

Ihun menyebutkan, untuk satu jenis barang besar, seperti nyiru dan boboko setiap satu orang warga bisa memproduksi sebanyak tiga biji dalam sehari. Kemudian untuk jenis barang kecil seperti cecempeh, hihid dan dingkul itu bisa lebih dari tiga biji dalam sehari.

“Untuk macam-macam barang, yang kecil haganya 15 ribu dan yang besar bisa nyampe 25 ribu atau lebih tergantung pemesanan,” tutur Ihun.

Untuk pemasaran, selama ini Ihun menjualnya melalui online, dan sisanya dititipkan di Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sumedang untuk membantu di promosikan sekaligus dijual.

“Kita jual melalui online dan juga dititipkan di UMKM Kabupaten Sumedang, ada juga yang di jual ke daerah Bandung,” ucap Ihun.

Untuk proses pembuatan, kata Ihun selama ini tidak ada kendala bahkan dari bahannya juga mudah sekali didapat karena dilingkunganya Dusun Pangaroan terdapat banyak pohon bambu yang saat ini masih tumbuh subur dan dibudiyakan oleh warga disini.

Menurutnya, selain meninggalkan warisan kerajinan anyaman, nenek moyangnya juga meninggalkan lahan untuk membudidayakan pohon bambu supaya penerusnya tidak kesulitan untuk mencari bahan baku untuk dijadikan kerajinan bambu.

“Alhamdulillah untuk pengerjaan tidak ada kesulitan untuk para perajin pun tidak ada keluhan bahan, kebanyakan dipenuhi tanaman bambu makannya dimanfaatkan oleh warga untuk membuat kerajinan bambu,” ujar Ihun.(E-010)***